Friday, January 3, 2014
Friday, December 27, 2013
My Sun
Deburan
ombak menyapa saraf-saraf telingaku lembut, membuatku tertarik untuk membuka
mata, melihat air yang berkejaran dan sinar kuning sang mentari yang siap untuk
menyongsong harinya di pagi ini. Tapi tidak, aku tidak membuka mata. Kunikmati
detik demi detik yang kumiliki di pagi yang damai ini. Kuambil napas sepanjang
yang kubisa dan menghembuskannya perlahan. Dapat kubayangkan hembusan napasku
bersatu dengan angin laut yang sedari tadi memainkan rambutku. Oh, aku sungguh
jatuh cinta dengan kedamaian ini. Seperti jatuh cintanya aku pada kedamaian
yang kau buat untukku.
“Hei,
jangan lari kamu. Ayo siniii!” teriak Leon padaku. Aku berbalik ke arahnya lalu
menjulurkan lidahku untuk mengejeknya. Dia mendengus kesal lalu berlari
mengejarku.
Aku
terus berlari hingga akhirnya sebuah tangan besar menagkapku dari belakang dan
menggelitiku tepat di pinggang. Aku tertawa dibuatnya. “Stop it, Leon!” pintaku
memohon. Tapi dia sama sekali tidak berhenti menggerakkan jari-jarinya di pinggangku.
Dia malah ikut tertawa “Rasakan!” ujarnya sambil tertawa. Aku mencubit
tangannya ganas, baru dia berhenti. Akhirnya, aku dan dia sama-sama terduduk di
tepian pantai sambil memegangi pipi kami yang pegal karena kelelahan tertawa.
Napasnya
terengah-engah dan terdengar kasar. Aku puas mendengarnya, itu berarti aku
berhasil membuatnya berolahraga. Dia malas sekali berolahraga, padahal dia kan
cowok.
“Capek,
Ra. Awas loh ya kalo kamu ngabur-ngabur lagi kaya tadi.” ujarnya sambil
memelototiku. Aku memutarkan bola mataku lalu menantang tatapannya, “Iih, dasar
cowok lemah. Kamu justru harus banyak olahraga kaya gitu biar kuat.” ujarku.
Kedua mata hazel itu tiba-tiba melembut, menatap mataku dalam. Aku terpaku ketika
cahaya matahari senja ikut menimpa wajahnya. Burung camar yang sedari tadi
berisik ikut terdiam, seakan merasakan dahsyatnya aura orang yang memiliki mata
hazel itu.
“Gabisa,
Ra. Aku gamau kehilangan kamu gara-gara maksain olahraga gitu. Aku gaakan
bisa.” ucapnya pelan, matanya tertancap pada mataku. Aku hampir tersedak, apa
maksudnya? Alih-alih bertanya dengan serius, aku memilih untuk tersenyum
padanya lalu menyenderkan kepalaku di bahunya, menatap terbenamnya matahari
senja di pantai selatan yang indah ini, berdua. Tiba-tiba seekor kepiting lewat
di depan kami, “Kepiting itu jadi saksi bahwa kita pernah ada disini, Ra.” Dia
mengecup puncak kepalaku. Aku tersenyum diatas bahunya. Damai.
Kubuka mataku pelan, ribuan cahaya
berebut memasuki mataku. Sebuah bola besar berwarna oranye di ufuk timur
mewarnai pandangan pertamaku. Aku mengedipkan mataku berkali-kali. Melihat bola
itu, tidak melihat, melihat lagi, tidak lagi hingga akhirnya mataku sendiri
yang terbiasa dengan cahaya yang dipancarkan oleh bola besar itu. Aku melihat
cahayanya lagi, menatapnya dalam, berharap dia menjawab pertanyaan yang sedari
tadi berseliweran di dalam kepalaku. Tapi bola itu tidak menjawab, ia hanya
diam dan terus naik ke tempat dirinya seharusnya berada.
Smartphone-ku
bergetar, aku meraba setiap inci dari sakuku untuk mendapatkannya. “Halo?” sapaku
setelah kupencet tombol hijau tanda menjawab telepon.
“Hei, Ra, dimana lo?” sahut Anti,
sahabatku dari seberang sana.
“Gue? Disini ajanih, kenapa?” jawabku
asal sambil menutupi mataku. Aku mulai kesilauan.
“Ya iya, makanya gue tanya lo ada
dimana. Retoris lo ah.” omelnya kesal. Aku tertawa pelan untuk menimbali
omelannya itu.
“Malah
ketawa lagi, gila lo. Dimana lo?” tanyanya lagi dengan nada mengintimidasi yang
sudah kuhafal. Aku mengelilingkan pandangan ke sekitarku untuk menjawab
pertanyaan Anti, namun aku tidak menemukan apapun selain pasir-pasir putih yang
membentang luas dan air yang berkejaran tiada henti. Aku menghembuskan napas
pelan lalu menjawab, “Gue lagi di pantai, Ti.” Tidak ada jawaban, hening. Aku tahu,
Anti pasti kaget mendengarnya.
“Ya
ampun, Ra… Lo sendiri?” tanyanya setelah beberapa saat terdiam. Aku
bergumam-gumam ria untuk menjawabnya.
“Kenapa lo ga bangunin gue ajasih kalo lo
emang mau main pasir di pantai? Kenapa sendiri? Lo jangan suka menyendiri gitu
deh, bukan lo banget…. Lo…”
“Gue gamau main pasir, Anti…” potongku lembut.
“Lagian gue emang lagi pengen sendiri. Lo tau, melepaskan semua yang
berkeliaran di otak lo beberapa hari terakhir itu ga gampang.” lanjutku dengan
sabar. Anti hanya mendengarkan. Sepi lagi beberapa saat sebelum Anti berkata
dengan tidak sabar, “Gue kesana, ya. Tunggu gue!” Hubungan telepon tiba-tiba
mati. Aku hanya berdecak mendengarnya. Aku tidak heran, Anti memang selalu
begitu. Bahkan sepertinya ia akan lupa untuk membawa smartphone-nya kesini. Ya, si ceroboh itu…
“Kamu kemana sih? Kenapa ngilang
mulu? Kamu bosen, sama aku? Kalo iya, kita putus aja Leon!” teriakku marah
sesampainya aku di cafeteria favorit kami. Leon bergerak-gerak gusar di
depanku, sama sekali tidak menanggapi teriakanku. Matanya gelisah, aku berdecak
kesal. “Leon! Liat aku!” bentakku. Sontak, dia memfokuskan wajahnya padaku.
Matanya menatapku tepat di manik mataku. Matanya terlihat lelah dan memelas.
Wajahnya lebih putih dari biasanya, pucat. Tiba-tiba aku merasa khawatir.
“Le, kamu kenapa?” tanyaku sambil
menelusuri wajahnya yang terlihat menyedihkan. “Kamu sakit?” tanyaku lagi. Dia
tidak menjawab, hanya tersenyum. Leon meraih jariku dan mengecupnya lembut.
“Tiara, kamu harus percaya sama
aku. Alasan aku menghilang akhir-akhir ini bukan karena ada orang lain, ko. Ada
hal yang harus kuselesaiin secepatnya. Nanti kalo aku udah selesai, aku bakal
balik ke kamu kaya dulu.” Tiba-tiba jantungku berdegup lebih cepat dari
biasanya. Bukan karena tersipu sehingga ada ribuan kupu-kupu hadir dalam
perutku dan membuatku deg-degan. Lebih karena aku khawatir.
“Hal apa, Le? Kamu bisa cerita sama
aku kalo itu terlalu berat kamu tanggung sendiri. Kalo kamu tanggung sendiri
nanti kamu kecapean dan sakit. Aku gamau
kamu sakit, Le.” jawabku sambil menyentuh keningnya. Tidak panas, syukurlah.
Leon menarik tanganku dari keningnya lalu menelungkupkannya diantara kedua
tangan besarnya.
“Tangan kamu selalu kecil dan
lembut, ya Ra. Rapuh banget.” ujarnya tiba-tiba. Aku mendelik tidak mengerti.
“Aku gamau tangan rapuh ini terluka, Ra. Makanya biarinin aku aja yang ngurus
ini semua. Kamu percaya sama aku, aku pasti balik lagi.” tambahnya. Mata hazel
cantiknya menyiratkan keseriusan yang membuatku otomatis mengangguk dan
memercayainya.
Beberapa saat berlalu dalam
keheningan, yang kulakukan hanya menatap wajahnya. Sedangkan ia sedang melihat sesuatu
yang entah apa itu dari kaca besar di sebelahnya. Sebenarnya, aku sungguh
senang berrtemu lagi dengannya semenjak beberapa bulan yang berat ini.
Kemunculannya yang tiba-tiba membuat perasaan gembira dan kesal membuncah
seketika aku melihatnya. Tapi sekarang, setelah aku meihat wajahnya, semua
perasaan itu sirna digantikan oleh perasaan khawatir yang berkelanjutan.
“Le, liat apa sih?” tanyaku memecah
keheningan. Leon mengalihkan pandangannya dari benda diluar sana padaku. Ia
tersenyum tipis, “Aku liat matahari, Ra.” jawabnya. Keningku berkerut bingung,
“Terus?” tanyaku. Leon menjeaskan, “Matahari itu ga pernah ingkar janji, Ra.
Malem, dia selau pergi ninggalin kita dengan semua cahayanya yang
menghangatkan,bikin kita terkadang sedih dia tinggal. Tapi paginya, dia selalu
datang lagi buat membagikan kehangatannya ke kita. Aku kagum sama dia, Ra.” jelasnya
sambil menunjuk matahari di luar sana. Aku mengikuti pandangannya lalu
mengangguk mengerti.
Leon kembai memfokuskan
pandangannya padaku. “Ra, aku mau jadi matahari itu buat kamu. Aku mau
menghangatkan hari-hari kamu. Dan aku akan selau memegang janji aku ke kamu.
Boleh ga aku jadi matahari kamu?” tanyanya tiba-tiba. Hatiku mencelos, dia
bilang apa? Aku mengerjapkan mata berkai-kali dan mencubit tanganku untuk
memastikan bahwa aku tidak bermimpi. Leon masih tersenyum di tempatnya, ke
arahku. Setelah sadar bahwa ini bukan mimpi, aku mengangguk sekuat tenaga-agar
Leon tahu aku mengangguk-lalu tersenyum padanya. “Promise?” tanyaku sambil
mengacungkan jari kelingkingku padanya. Dengan cepat dia mengaitkan
kelingkingnya pada kelingkingku. “Promise.” Aku tersenyum bahagia.
“Tiara!”
teriak Anti dari belakang batu karang yang baru saja terkena ombak. Aku menoleh
lalu melambaikan tanganku padanya, hanya untuk menunjukkan bahwa aku sudah
mendengarnya.
“Hosh…
hosh.. hosh…. Gila, lo udah jalan sejauh ini, Ra?” ucapnya sesaat setelah dia
sampai di tempatku.
Aku
tersenyum padanya, “Lo aja kali Ti yang ngerasa jauh. Ini ga jauh, ah.” jawabku
sambil meraih tangannya yang menggapai-gapai tanganku kelelahan. Anti
menegakkan badannya lalu melepas tangannya dari genggamanku dengan sekali sentakan.
“Kaya lesbi lo Ra pegang-pegang tangan gue.” ujarnya bercanda. Aku hanya
terdiam, tidak menanggapinya sama sekali.
Anti
mulai berceloteh tentang banyak hal di sebelahku. Membuat pagi sepi yang sedari
tadi kurasakan menjadi pagi ramai yang ceria. Anti memang selalu menjadi mood booster-ku.
Terkadang, ia bahkan berhasil membuatku tertawa, meskipun tawaku tidak selepas
dan segila dulu. Yah, aku bersyukur karena Anti selalu ada disisiku, tetap
menyemangatiku dan membuat hariku menjadi sedikit lebih berwarna.
“Ra?
Tiara? Tiara? Lo ngelamunin apasih?” aku menoleh padanya, mengangkat alis sambil
pura-pura mendengarkannya. “Kita lagi liburan, Tiaraaaa… Woi! Lo kenapa malah
tambah diem sih diajak liburan? Lo harusnya berusaha buat lupain semuanya
tentang Leon, Tiara. Always thinking
about him just make you hurt more, let him go, Ra.” ucapnya. Mendengar nama
Leon disebut, aku mengangkat kepala dan mencoba untuk fokus pada Anti.
Anti
berdecak keras dan menghentakkan tanganku, “Ra! Sadar, Ra, sadar! Lo udah ngga
sama dia lagi, lo jangan inget dia terus kalo itu emang bikin lo sakit. Hidup
lo ga berakhir cuma dengan berakhirnya hubungan lo sama dia. Masih banyak ikan
di laut, ra!” teriaknya tepat di depan wajahku. Matanya menyala-nyala, bukan
marah, tapi terlihat sangat khawatir. Aku sendiri sedang menahan segala gejolak
perasaan yang berebut keluar untuk menunjukkan wujudnya.
Tiba-tiba
seekor kepiting melewatiku dan Anti. Dan bertepatan dengan itu, air yang sudah
lama tertimbun di dalam mataku ini jatuh begitu saja. Anti terkesiap, mencerna
keadaanku beberapa saat lalu langsung memelukku erat dalam pangkuannya.
“Yaampun
Tiara, sori ya, gue gatau kalo ini pantai yang sama dengan pantai lo dan Leon
waktu itu, dan kepiting itu….. Aduh, sori, Ra.” ucapnya tiba-tiba. Aku hanya
mengangguk pelan dalam tangisku. “Sabar, ya Tiara..” ujar Anti berkali-kali
sambil mengelus-elus rambutku.
“I love you Ra.” ujar Leon mesra di daun
telingaku. Suaranya yang bergetar sama sekali tidak mengurangi makna dalam kata
itu. Bahkan, suaranya itu ikut menggetarkan hatiku dan membuat jantungku
berdebar lebih keras. Rasa pusing yang menyergapku karena bau obat rumah sakit seketika
hilang mendengar Leon berkata seperti itu.
Tangannya yang lebih kecil dari
biasanya menggenggam tanganku. “Maaf Ra, kamu harus liat aku kaya gini.” ujarnya.
Aku menggeleng pelan sambil menempatkan telunjukku di bibirnya. “Kamu… jangan
banyak… ngomong dulu ya..” ucapku sambil menahan cairan bening yang sudah
menumpuk di dalam pelupuk mataku.
“Jangan nangis, Tiara..” ujar Leon
terbata. Aku mengangguk sambil mengelus kepalanya lembut. Dia tersenyum padaku,
menatapku penuh arti. Aku balas menatapnya, sekedar untuk membuatnya senang.
Tak sadar bahwa menatapnya balik akan mengaktifkan bom yang sudah sejak tadi
ada di dalam mulut Leon. “Tiara, I want give up this to you.” ujarnya.
Diam-diam aku berdoa dalam hati atas maksud dari ucapannya itu. Semoga saja
apapun yang dia maksud, itu adalah hal yang baik.
“Just if I’m gone, will you still
believe in my promise?” tanyanya. Aku tercekat. ‘Just if I’m gone’ terlihat
seperti kata perpisahan buatku. “Maksud…. Kamu.. apa?” tanyaku. Leon
melanjutkan kata-katanya tanpa menghiraukan pertanyaanku tadi. “Yah, you have
to. Believe me, Ra. Aku gaakan pernah ninggalin kamu. You are my star, and I am
your sun. Star and sun is always belongs together.” Mataku mulai berkaca-kaca,
aku tak yakin akan sanggup menahan cairan ini keluar setelah Leon selesai
berbicara.
“Wherever I am Ra, I am still yours
and it will always be. Wherever I am, I will always shining your days. I am a
sun, remember? So, if you miss me someday, just see to the sun, and I will
smile for you from that Sun.” aku terpaku, cairan-cairan bening ini sudah
bercucuran keluar lagi dari mataku. Aku menggeleng pelan, memintanya untuk
berhenti berbicara. Leon tidak berbicara lagi setelah itu. Tanpa sadar, Leon
meremas jari-jari tanganku, dan akupun meremasnya balik. Jari kami terpaut,
mata kami saling pandang, menceritakan masing-masing kehidupan kami yang
sendiri. Aku beberapa bulan ini tanpa dia, dan dia dengan penyakitnya yang
ganas.
Air mataku tidak berhenti jatuh
ketika Leon berusaha sebisa mungkin menghiburku untuk tidak menangis. Aku
membayangkan jika ini benar-benar ucapan selamat tinggal dari Leon. Ah, tidak
aku harus menepis fikiran itu. Aku tahu, Leon masih disini, disisiku. Dan akan
selalu di sisiku.
“Meskipun kanker ini ngerenggut
semua tenaga dan kesehatanku, kanker ini tetep gabisa ngerenggut rasa sayangku
buat kamu. It will never end. Just like the sun. Selama matahari itu masih
bersinar dengan setia di setiap harinya, aku juga bakal dengan setia sayang
sama kamu. Jadi, if I go somewhere, jangan sedih. Inget positifnya aja ya Ra,
bahwa aku selalu bawa perasaan ini buat kamu bahkan kalo aku udah ga ada. I love
you, Tiara.” ujarnya lagi.
Mataku buram tertutupi air mata
yang keluar deras tiada henti. Leon melepas genggamannya dari tanganku lalu
mengelus mataku pelan. “Whatever will be, will be Ra.” bisiknya pelan. Aku
balas berbisik lembut padanya, “I love you too, Leon.” Leon tersenyum tenang,
damai. Dan beberapa detik kemudian matanya terpejam dan suara dengingan yang
sedari tadi berbunyi teratur di ruangan ini mengeluarkan bunyi keras yang memekakkan
telingaku. Aku tak bisa mendengar apa-apa lagi selain tangisanku yang pecah.
Aku
mengangkat kepalaku dari bahu Anti, menghapus sisa tangisku yang tiba-tiba
pecah tadi. Anti masih saja mengucapkan kata yang sama. Tapi sekarang, aku
sudah lebih tenang. Keberadaan Anti dan tepukan tangannya di punggungku
benar-benar seperti endorphin bagiku,
yang lama-lama memberiku keberanian untuk bangkit dan tersenyum.
Semburat
kuning memasuki mataku lagi ketika aku menolehkan kepala ke arah timur. Aku
menatapnya, lama. Anti sempat bingung lalu hendak memelukku lagi tapi ia berhenti
ketika ia melihatku tersenyum. Anti ikut melihat matahari pagi yang menyembul
malu-malu diantara awan.
“Kenapa
sama mataharinya, Ra?” tanya Anti bingung.
“Lo
salah, Ti. Leon will always be mine, our
love will never ends.” jawabku yang membuat Anti mulai mengambil
ancang-ancang takut-takut jika aku menangis. “We are lover forever.” tambahku. Anti maju satu langkah
mendekatiku. “Karena dia akan selalu ada di sini.” ucapku sambil menatap
matahari di depanku dan memegang dadaku pelan. Anti terdiam lama, tidak
berceloteh lagi seperti biasa. Hening menyergap kami, hal yang tidak biasa jika
aku bersama Anti.
Aku
mengangguk mantap, lalu menatap Anti, “Kayanya gue bisa ikhlasin Leon deh Ti.”
Mata Anti membelalak lalu tersenyum menyemangatiku. Senyumku ikut mengembang.
Kutolehkan lagi kepalaku pada matahari pagi ini dan tersenyum padanya.
Ya,
aku harus percaya pada Leon. Wherever he
is, he will always beside me. Morning, my sun J
Quotes
"Life is short, break the rules, make mistakes, forgive quickly, love truly, kiss slowly and never regret anything."-Mark Twain
Sunday, December 15, 2013
Quotes
"If You Are Lucky Enough To Be Different,
DON'T Ever Change."- Taylor Swift
Saturday, December 14, 2013
Ketika Cinta Itu Pergi
“Yeeee! Congrats
yaa Tia!” ucap Nia ketika aku melewatinya di lorong sekolah.
“Selamat, selamat.” teriak anak-anak kelas XI yang berebut
mengucapkan selamat kepadaku. Semuanya tersenyum penuh ketulusan.
“Tiara, selamat ya. Semoga mulai sekarang kamu jadi tambah
percaya diri.”ucap Dika ketika aku tidak sengaja berpapasan dengannya. Aku
hanya mengangguk
dan tersenyum malu.
Hari ini adalah hari yang luar biasa buatku. Pagi
ini sekolahku melaksanakan upacara seperti biasa dan diakhir upacara namaku
dipanggil untuk mendapat penghargaan dari Bapak kepala sekolah. Minggu lalu aku
mengikuti lomba speech di SMA Tiara Bangsa
dan atas pertolonganNya aku memenangkan perlombaan pertamaku itu. Oleh karena
itu, aku mendapatkan sangat banyak ucapan selamat dari teman-temanku.
Aku memasuki kelas dengan wajah bersemu. Berterimakasih
atas semua yang telah orang-orang ucapkan kepadaku. Aku sungguh sangat
tersanjung hari ini, hal yang sangat jarang buatku. Semoga ini menjadi awal
yang baik untuk satu minggu yang akanmelelahkan ke depan.
“Ra, selamat ya. Kita tau sebenernya kamu emang jago
kok, cuma mungkin selama ini kamu kurang percaya diri aja.” ucap sahabat
baikku, Tika.Aku hanya tersenyum.
“Oh iya Ra, gimana komentar ortu lo?” Tanya Kira
polos. Aku termenung,mama sama papasebenernya udah aku kasih kabar tapi mereka
masih belum komentar apa-apa.
“Gatau juga Ki gimana. Aku belom kasih tahu.”ucapku
berbohong dengan penuh senyum palsu. Kira dan Tika hanya menggeleng.
“Kamu yang sabar, ya Yara. Mungkin emang butuh
waktu.” ucap Tika sambil mengelus tanganku lembut. Lagi-lagi aku hanya bisa
tersenyum.
“Oh
iya Ra, kamu mau pulang sama siapa? Aku pulang barengan Kia nih, mau gabung
ga?” tanya Tika lembut kepadaku. Hampir saja aku mengiyakan jika aku tidak melihat
mobil yang menjemputku sudah ada di tempat parkir.
“Gausah deh Ka, aku pulang sama Pak Beno aja, itu
udah jemput.” jawabku setengah hati.
“Oh yaudah kalo gitu kita duluan ya.” Tika dan Kira
pun berlalu dengan mobil jeepnya. Akhirnya aku sendiri lagi, menghadapi hari
yang entah akan bagaimana. Hmm… Tuhan, kuharap hari ini tidak akan merepotkan.
Sesampainya di rumah aku sudah bisa menebak, pasti
kosong, tidak ada orangsama sekali. Seperti biasa aku langsung masuk ke dalam
kamarku dan memilih untuk mengurung diri di dalam kamar hingga ada orang yang
datang. Aku merasa sangat lelah hari ini, mungkin tidur siang akan cukup
membantu.
“No, it is not
only your choice, it is our choice!”
“Whatever you
say, I just want to leave all this. This all going me crazy.”
“Tapi kamu ga bisa gitu Tiara itu anak kita berdua,
bukan cuma anak kamu aja.”suara mama..
“Tapi aku yang ngasih dia makan dan fasilitas
lainnya.” Suara papa….
“But…………” suaranya
hilang…. Mama… Papa… kemana?
Jam berapa sekarang? Aku langsung melihat jam yang
ada di sebelah kiri tempat tidurku. Oh, sudah jam 6 sore rupanya. Aku yang
masih kebingungan akhirnya memilih untuk bangun dan duduk di kasur. Karena
pusing, aku mencoba untuk meminum air yang ada di meja belajarku. Beberapa saat
kemudian aku baru merasa lumayan.
Mama papakenapa sih setiap hari bertengkar?Mama papa
seharusnya tidak mengalami hal-hal seperti ini. Pasangan kekasih sejak SMA yang
selalu akur tidak mungkin jadi begini. Memang, mama dan papa memiliki budaya
yang berbeda. Papa yang orang Perancis sedangkan mama orang Indonesia. Tapi apayang
sebenarnya jadi masalahnya? Pusing, aku pun mengusap kepalaku pelan. Beberapa
saat kemudian pintuku diketuk oleh seseorang.
“Nona, sudah waktunya makan malam. Sudah ditunggu Nyonya.”
ucap Bi Inah, kepala pembantu di rumah ini.
“Iya, Bi. Aku turun.”jawabku yang langsung berjalan menuju
ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, aku langsung duduk tepat
di depankursi mama. Aku melihat ke sekitar dan tidak ada ciri-ciri keberadaan
papa. Aku pun menunduk lesu. Terlalu tinggikah mimpiku jika aku berharap kami
bisa makan malam sekeluarga?
“Where is Dad,
Mom?” tanyaku seperti
kebiasaanku sesaat setelah aku duduk di depan mama.
“Going
somewhere. Katanya masih ada kerjaan yang belum selesai, mama juga gatau
kemana. Mama udah ga ngerti lagi sama papamu itu.”jawab mama skeptis. Aku?
Hanya bisa menghela napas berat berkali-kali. Tapi tetap kuusahakan untuk
tersenyum tipis ketika mama melihat ke arahku. Dan tidak lama kemudian, papa
keluar dari kamar dengan pakaian lengkap dan menuju keluar rumah dengan sangat
terburu-buru.
“Adrian…. Where
you will go? Don’t you want to say good bye first to us?” tanya mamaku
ketika sadar aku memerhatikan papa yang hampir lewat begitu saja di hadapanku
tanpa menyapaku sama sekali.
“Oh please
Clara, I don’t have more time for that. I have to go now.”jawab papaku dengan tegas, masih tidak
mengacuhkanku. Mamaku mencoba untuk berbisik pada papaku.
“Tapi Clara, aku sedang terburu-buru!” dan mereka
pun bertengkar dalam bahasa Prancis, bahasa yang tidak ada seorang pun mengerti
di rumah ini. Mereka terus bertengkar tanpa sadar disini ada aku yang terdiam
seperti patung melihat mereka. Dan ketika pertengkaran mulai memuncak, aku
bersaha untuk menghentikannya.
“Daddy please stops
it! It will not working to always fight every time. You both are wasting time
too much.”
“You know
nothing, Tiara. You will never understand what we are talking about, so just
silent and sleep. You are too young to know our problem!”
“Adrian!” teriak mamaku pada papaku dengan tangan
hampir akan menampar papa sedangkan aku menganga tak percaya papaku bisa mengatakan
itu. Tanpa disadari air mataku jatuh ke pipiku, tetes demi tetes. Wajah papaku
yang kaku akhirnya sedikit mengendur. Setelah melihat air mataku, mamaku
langsung mencobauntuk memelukku dan papaku berusaha untuk mengelap air mata
yang mengalir di pipiku. Aku berontak. Aku menangis deras.
“Tiara, sorry
I said that. It is out of my control.” pinta papa sambil mencoba
merangkulku.
“Don’t touch
me……” namun papa dan mama tetap ada diam di tempatnya tanpa merubah posisi
sedikit pun. “DON’T TOUCH ME I said,
don’t you hear that? Don’t touch me, don’t touch me!”
“Tiara, kamu ga boleh ngomong gitu.”
“Mama yang ga boleh ngomong gitu. Mama ga ngerti sama
aku, mama ga kenal aku, bahkan mama sama papa gatau kan kalo aku menang lomba speech yang kuikutin kemaren? Jadi
sebenernya mama sama papa yang ga berhak ngomong gitu ke aku!” dan tepat setelah itu, aku langsung
lari kearah kamarku dengan air mata terus bergulir.
Aku melesakkan seluruh wajahku ke bantal, kubiarkan
bantalku menjadi basah kuyup, aku sudah tidak peduli lagi. Kedua orang tuaku,
orang yang selama ini sangat aku banggakan ternyata bahkan tidak mengenalku,
tidak menganggapku ada. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka
masing-masing, tanpa merasa perlu untuk mengurusku. Danaku kesepian lagi,
sendiri memandangi langit malam tanpa bintang. Oh Tuhan… inikah memang jalanku?
Hari pun berlalu begitu cepat. Tak kurasa ini sudah
pagi hari, rupanya semalam aku ketiduran. Tidurku nyenyak tanpa mimpi. Semalam…
hmm bahkan mereka tak mencoba untuk merayuku untuk memaafkan perbuatan mereka.
Sudahlah lebih baik aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Aku mendapat
firasat bahwa hari ini akan sedikit menghibur.
Sesampainya di sekolah, baru saja aku memasuki
gerbang tiba-tiba Dika datang dengan tasnya menyapaku.
“Hai, Yara. Kamu kenapa? Mukamu sembab begitu.” ucapnya
bingung. Jantungku tiba-tiba berdetak dengan cepat dan bulu kudukku berdiri,
seketika aku tegang. Ya ampun, masihkah tersisa tangisan semalam yang terlihat
hingga pagi ini? Oh, tidak…
“Aku ga papa ko Dik, cuma kelilipan aja.” jawabku
sekenanya. Aku tidak tahu mau menjawab apa lagi.
“Jawaban klasik, ya hahaha…. Jadi kenapa? Orang tua
lagi?” tanyanya tepat sasaran. Aku yang tidak tahu harus menjawab apa
benar-benar langsung mati kutu. Dika yang sepertinya mengerti langsung meraih
tanganku dan mengusap bahuku pelan sambil berkata,
“You can trust
me then.” Aku yang awalnya
bersikukuh tidak mau memberi tahu akhirnya menyerah juga. Tepat ketika aku
mulai bercerita, air mataku mengalir. Berat rasanya menahan air mata ini untuk
tidak keluar. Pada akhirnya aku menceritakan semua kejadian semalam pada Dika. Air
mataku tumpah ruah tak tertahankan mengalir deras seperti air terjun. Ia
mengenggam tanganku erat dan sesekali mengelusnya jika ia merasa bersimpati.
Setelah selesai bercerita, air mataku mengering. Dika hanya tersenyum penuh
arti sedangkan aku merasa beban berton-ton yang selama ini ada di bahuku telah
diangkat. Aku sangat lega ditambah lagi dengan keberadaan Dika yang menguatkan
dan senyumnya yang menenangkan.
Setibanya di kelas, mataku membesar dan pandanganku
mengabur. Melihat keadaanku yang sangat kacau, Tika dan Kira membawaku ke UKS
untuk beristirahat. Ketika sampai di UKS mereka sempat bertanya “Kamu kenapa,
Yara?” Aku hanya tersenyum dan mereka mengerti apa arti senyuman itu. Mereka
pun menyuruhku untuk beristirahat dan membiarkanku sendiri.Lalu dalam
kesendirian, akupun tertidur dengan mudahnya.
“Yara… banguuunnn. Ayo ini udah jam pulang looh. Kamu
hampir tidur seharian di sini. Ayo bangun!” teriak Tika tepat di depanku yang
sukses membuatku gelagapan ketika bangun. Dan tepat saat aku membuka mata, aku
melihat ada tiga orang di depanku. Tika, Kira dan……… Dika. Ya ampun, kenapa
Dika jadi ikut-ikutan?
“Yara, lo yang kuat yah di masa kritis ini. Jangan
kalah sama keadaan.” ucap Kira tiba-tiba.
“Iya, Ra… kita percaya kok ini jalan yang terbaik
buat kamu. Jangan nyerah dan tetap semangat yaa.” ucap Tika kemudian.
“Kalian tahu dari mana?” tanyaku bingung.
“Aku yang udah kasih tahu mereka. Gak apa-apa kan?”
ucap Dika khawatir seraya mendekati tempat tidurku satu langkah. Wajahku
tiba-tiba memanas dan jantungku berdegup lebih cepat. Tika dan Kira yang tahu
aku pernah menyukai Dika serentak tersenyum penuh arti kepadaku.
“I..iyaa gak apa-apa ko Dik.” jawabku seadanya
sambil memelototi Kira dan Tika. Ya Tuhan… kenapa reaksiku jadi berlebihan
begini? Padahal tadi pagi masih biasa saja.
“Kamu yang tabah ya Tiara. Allah pasti ngasih jalan
terbaik buat kamu. Semangat, ya.” ucap Dika dengan senyum. Senyum tulus yang
menular karena sedetik kemudian aku merasakan sudut-sudut bibirku terangkat.
Waktu sudah menunjukkan jam 3 sore, aku diantar
ketiga sahabatku sampai ke parkiran sampai aku menemukan mobil Pak Beno. Namun,
aku sama sekali tidak menemukan mobil itu. Yang kutemukan sungguh diluar
dugaanku, yaitu mobil papa dengan mama di dalamnya. Aku terpana sesaat, rindu
akan pemandangan ini. Ketiga sahabatku yang tahu bahwa aku dijemput oleh kedua
orang tuaku otomatis langsung pamit pergi dan sebelum pergi, mereka
menyemangatiku dulu satu persatu. Aku hanya bisa tersenyum tipis.
Setelah mereka pergi, aku masuk ke dalam mobil papa.
Beberapa menit awal mobil hening, tidak ada suara sama sekali, hanya helaan
napas yang saling berkejaran saja yang kudengar. Lalu tiba-tiba mama memutar
musik klasik yang dulu sering diputar oleh papa dan mama ketika berpergian
berdua. Di tengah-tengah lagu, mama ikut bernyanyi. Suaranya merdu bagaikan kicauan
burung kenari di pagi hari.Kulihat papa tersenyum tipis dari kaca depan. Mereka
yang awalnya menatap kedepan tiba-tiba saling menatap sesaat tanpa sengaja lalu
tersenyum bersama. Kurasakan percikan cinta yang menyenyat hati di dalam
tatapan mereka. Aku terharu melihatnya lalu langsung memalingkan wajah.
Aku masih belum tahu kemana aku akan dibawa pergi
oleh kedua orang tuaku. Mereka masih belum bicara kepadaku. Dan tiba-tiba di
hampir akhir perjalanan mama bicara kepadaku,
“Kamu ingat Pantai Pangandaran, kan? Kita akan
melepaskan penat kita sejenak disana.” ucap mama santai penuh senyum kepadaku.
Aku terbelalak tak percaya. Mungkinkah ini suatu awal yang baru untuk keluarga
kami?
“Tapi, mah, aku ga nyiapin apa-apa buat kesana.” kataku
kegirangan.
“We have
already save it for you, babe. Don’t worry, just enjoy every time we have there.
Oke?” ucap mama sambil mengelus kepalaku tiba-tiba. Sengatan listrik kasih
sayang pun mengalir dari kepala yang mama sentuh ke seluruh tubuhku. “Thanks mom.”
“Say it to
your dad too. This is his idea.” ucap mama sambil memicingkan mata kearah
papa. “Thanks, dad. It is amazing!”
ucapku lalu tersenyum kearah kaca, dimana papa melihat senyumku dari situ.
Sesampainya di Pangandaran, kami check in ke salah satu hotel lalu beristirahat.
Keesokan harinya kami langsung pergi ke pantai. Awalnya suasana canggung, namun
berubah ketika papa mulai membuka pembicaraan kepadaku dan mama,
“Why the
situation is like these guys? We are in a holiday! Let have fun!”
“What we will do
to make it fun, Dad?” tanyaku.
“How about volley
beach with clothes and jeans?” usul mamaku.
Aku tersenyum, “Okedeh.” dan kami pun mulai untuk
bermain volley beach. A special volley beach
family.
Malam menjelang, kami sedang duduk-duduk di pasir
pantai sambil menunggu matahari terbenam. Suasana khidmat dan tenang. Semenjak
tadi pagi, kami jadi akrab lagi, hening sekarang sudah berbeda dengan hening di
hari kemarin. Benar-benar mimpi yang jadi kenyataan. Sesuatu hal yang sangat
mengejutkan dari kedua orang tuaku. Hal yang tidak akan pernah kulupakan, salah
satu momen terpenting dalam hidupku
“Tiara…. Are
you happy?” tanya mamaku tiba-tiba.
“Sure, mom. Ini
hal terindah yang pernah kita lakuin sebagai keluarga.” jawabku jujur. Mamaku
tersenyum tipis, sangat tipis sehingga aku merasa itu bukanlah sebuah senyuman,
melainkan suatu ejekan.
“We have
something to told, Tiara. An important thing.” Lanjut mamaku sambil melihat
matahari yang mulaimenyelami lautan.
“Apa, ma?” tanyaku sambil menoleh pada mamaku namun
mamaku malah menoleh pada papaku dan berkata “Tell her.” Papaku pun mengangguk lalu ia menghembuskan napasnya
sebelum berbicara padaku.
“We will get
divorce, Tiara, soon.” ucapnya tanpa emosi. Suaranya hambar, namun matanya
meluapkan banyak emosi dan kenangan yang menyakitkan.
“What? Why?”
tanyaku sambil berusaha untuk tidak marah.
“Kita rasa, kita udah engga cocok lagi, sayang. Gak
ada lagi yang bisa kita pertahanin bersama. We
are ends dan kita udah memutuskan.” ucap mama lembut sambil meraih
tanganku, takut-takut aku kabur lagi.
“Tapi kalian kan punya aku. Kenapa kalian ga nyoba
buat mertahanin aku aja sih? Padahal kan kalian udah saling cocok dari lama,
kenapa waktu udah bersama malah harus pisah? Kita kan bisa bangun semuanya dari
awal lagi, Tiara mau bantu kok. Kenapa harus cerai? Kena…” tanyaku tapi
dipotong oleh suara papa yang tegas dan dalam.
“Tiara sayang, pernikahan bukanlah suatu hal yang
mudah untuk dijalankan. Banyak sekali permasalahan yang ada di dalamnya. Dalam
pernikahan kita memiliki banyak tanggung jawab yang harusditunaikan dan papa
sadar, papa lalai dan sudah tidak sanggup lagi untuk memenuhi tanggung jawab
tersebut.Nanti, jika kita sudah bercerai, kamu akan tinggal bersama mama.” ucap
papa dalam, aku meresapinya sambil diam-diam meneteskan air mata.
“But I love
you both. Aku sama sekali gabisa bayangin hidup pisah sama mama ataupun
papa. Aku gamau nanti salah satu dari kalian bakal lupa sama aku.”ucapku yang
sudah memeluk papa erat sambil membanjiri kaosnya dengan tangisku.
“Nothing will
change, trust me. I will always loving you everytime and you will always be my
angel, Tiara. Alasan lainnya
adalah karena papa dipindahkerjakan ke Prancis, tempat kelahiran papa. Papa
tahu kalian akan sungkan jika diajak kesana, apalagi mamamu sangat menyukai
pekerjaannya disini. Kami terlalu work
holic, terlalu kuat berdiri sendiri sehingga rasa saling membutuhkan
semakin lama semakin terkikis diantara kami. Kami tidak ingin memperpanjang
penderitaanmu dengan teriakan-teriakan kami lagi. Kami ingin kamu hidup bahagia.”
Aku hanya menghela napas, papa lalu menjelaskan.
“Tolong berikan kami waktu untuk saling berpikir,
biarkan kami merasakan bagaimana rasanya kehilangan, biarkan kami melepas kini
daripada mempertahankan lalu menyesal kemudian. Jika kami memang berjodoh,
kelak kami akan saling jatuh cinta kembali.” ucap papa lagi, aku hanya
mengangguk-ngangguk mengiyakan. Tidak kudengar suara mama sejak tadi dan ketika
kulihat mama, ia sedang menagis juga sepertiku tapi dalam versi yang lebih
anggun. Mama duduk tegak, melihat matahari terbenam sambil bercucuran air mata,
menangis tidak bersuara. Papa pun akhirnya merangkul mama dan memeluk kami
bersama.
Hari ini adalah hari keberangkatan papa ke Prancis. Papa
dan mama sudah bercerai dan seperti yang direncanakan, hak asuh jatuh pada
tangan mama dan aku tetap tinggal bersama mama di Indonesia. Papa akan selalu
menghubungiku setiap hari dan kami akan sering-sering ber-videocalling. Sekarang kami bertiga ada di bandara, melepas
kepergian papa ke tanah kelahirannya. Aku mencoba untuk berdiri tegak dan tidak
menangis. Aku tidak ingin memberikan kesan buruk disaat-saat terakhir papa
disini. Ketika pesawat keberangkatan papa sudah terdengar diumumkan untuk
berangkat, papa sedang menatap mataku dalam.
“Tiara, kalau nanti ada lelaki yang benar-benar
mencintaimu dan kamu juga cinta padanya, kamu jangan terlalu mencintainya
hingga memberikan hidup dan matimu padanya. Biarkan Tuhan yang menunjukkan
jalannya padamu, oke?” ucap papa lalu mencium puncak kepalaku lembut dan
memelukku erat tepat ketika aku mengangguk. Setelah puas memelukku, papa
beralih kepada mama. Meskipun mereka sudah bercerai, aku masih tetap bisa
merasakan cinta yang besar diantara mereka. Papa menatap dalam ke mata mama, menguraikan
belit-belit cinta diantara mereka. Tangan papa menggenggam tangan mama dan mama
balas menggenggamnya. Mata mereka menceritakan kenangan kisah kasih antara
mereka di masa lalu. Tangan mereka saling meremas, semakin lama semakin erat
dan puncaknya papa mencium kening mama sangat lama. Mama memejamkan mata
meresapi setiap detik terakhir yang mereka miliki. Selama sesaat kulihat
keinginan mereka yang besar untuk kembali, namun tiba-tiba papa langsung melepaskan
dirinya dari mama, menarik diri dari kenangan masa lalu mereka.
Menurut Lo?
Suasana belakang panggung usai
penampilan The Band riuh. Dari jauh
terlihat Ari and the gang menuruni
tangga dengan gagah. Bertepatan dengan saat itu Afi mendengar pekikan banyak
remaja seumurannya yang memanggil nama anggota band itu satu persatu. Yang
diteriaki hanya mengangguk dan melemparkan senyum bangga yang tentu saja
mengundang teriakan baru dari deretan tak beraturan di depannya.
Afi
memfokuskan pandangannya lalu
mempercepat langkahnya mengekori anggota The Band yang terburu memasuki waiting
room. Tanpa
banyak berpikir, Afi menerobos maju lalu dengan penuh tenaga meneriakkan
satu-satunya nama yang sedari tadi menghantui pikirannya, “ARIIIII!”. Seketika
suasana hening dan puluhan kepala yang berdesakkan di depannya berbalik ke
arahnya. Afi hanya terdiam dan kehilangan suaranya ketika orang yang
dipanggilnya membalikkan wajahnya dan mengerutkan kening.
Orang
yang dipanggilnya mendekat, Afi bisa merasakan detak jantungnya mulai berpesta
tidak beraturan. Gugup, ia terus menerus memeluk paper bag yang hampir seharian ini bertengger di tangannya yang
basah.
“Sorry,
kita kenal, ya?” tanya Ari tepat ketika ia sampai di depannya. Afi menggigit
bibirnya lalu menggeleng pelan. “Oh gitu, yaudah deh. Gue pikir gue pernah
denger suara lo sebelum ini. Sini...” ujarnya tersenyum sambil meminta paper bag yang ada di tangan Afi. Afi
mendadak merasa tidak memiliki tenaga dan tanpa ba-bi-bu langsung memberikan paper bag yang berada di tangannya. Sesaat setelah mendapatkan paper bag itu, Ari langsung mengeluarkan isinya.
“Robot?”
tanya Ari bingung sambil mengangkat robot Ultraman yang ada di tangannya.
Wajahnya terlihat geli. Afi dengan polosnya tersenyum lebar dan menjawab, “Iya.
Biar kamu lebih kaya cowo mainnya robot, bukan malah main boneka.” Ari terkekeh
dan pada saat itu juga hati Afi meleleh dan senyumnya merekah bahagia. Oh,
Ari... Kehangatan yang Afi rasakan sukses membuatnya tak sadarkan diri. Ia tidak sadar bahwa adegan yang baru saja ia dilakukannya akan siap dilahap ribuan
mata keesokan harinya. Bahkan ia
juga tidak sadar akan perubahan air muka Ari semenjak mengobrol dengannya.
Dya berjalan cepat dari gerbang
sekolah menuju kelasnya di lantai dua, yang ada di pikirannya hanya satu:
segera bertemu Afi dan meminta penjelasan tentang apa yang dilihatnya kemarin
sore di televisi. Dya tidak habis pikir kenapa Afi nekat melakukan hal bodoh
itu, bahkan di hadapan publik. Dya tidak ingin sahabat sejak kecilnya itu salah
mengambil langkah dan akan mendapat aib yang tak terkira malunya dengan berada
di dekat Ari, si vokalis The Band.
“Afi, maksud lo kemarin apaan, sih?!
Jangan melakukan hal bodoh kayak gitu lagi!” Dya langsung mencak-mencak di
hadapan Afi sesampainya ia di kelas. Afi menunjuk wajahnya sendiri dengan
heran. “Emang gue ngapain, Dya?”
Nih anak benar-benar nggak tahu
bahayanya gosip di media massa, ya? Belum sempat Dya membuka mulutnya mengajukan
protes dan semua wejangan yang sudah ia siapkan sejak
malam, seorang guru kimia bertubuh tambun memasuki kelas.
Bel tanda istirahat berbunyi. Dya
yang sudah menanti pelajaran Kimia dan English
segera berakhir langsung menuju bangku Afi. Belum sempat ia buka suara, Afi
sudah menariknya menuju kantin. Lapar,
katanya dengan raut wajah yang aneh. Dya langsung sadar, ini pasti bukan hanya
karena sekedar lapar.
Koridor menuju kantin saat itu penuh
sesak. Mayoritas murid menuju kantin yang sama dengan mereka karena hanya
kantin di sebelah sanalah yang menyajikan menu bervariatif dengan harga yang
terjangkau. Ditambah lagi, Afi berspekulasi kalau Ari pun akan menuju kantin
yang sama. Benar saja, belum sampai di kantin, Afi dan Dya berpapasan dengan
Ari yang berjalan dari arah berlawanan.
Afi
tampak grogi ketika mendapati orang yang paling ditunggu-tunggunya itu muncul
di hadapannya. Tanpa disangka-sangka, Ari melambaikan tangannya ke arah Afi.
Dya memasang muka garang. Namun sebaliknya dengan Afi. Entah apa yang ada
dipikiran Afi, tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dengan cepat dan “BUK!!!” dahi
mulus Afi sukses mencium tiang sekolah dengan keras. Bahkan bunyinya pun dapat
mengubah ekspresi Dya yang awalnya menakutkan menjadi tercengang. Ari berhasil
dibuat diam seribu bahasa dengan aksinya. Dengan satu tangan menutupi benjol
besar yang tercipta di dahinya, Afi
menarik
tangan Dya untuk berbalik menuju kelas.
“Lo kan tadi nyari-nyariin tuh
orang, kenapa setelah ketemu malah mau kabur gitu? Gini kan hasilnya.” Dya mengompres luka
Afi dengan es batu yang ia dapatkan dari kantin.
“Kan gue grogi, Dya. Apalagi dia
dadah gitu.”
Kedua pipi Afi memerah seketika. Benar-benar wajah orang polos yang sedang
jatuh cinta. Ralat, mungkin itu wajah orang bloon yang terjangkit virus merah
jambu.
Dya mendengus kesal. “Lo itu ya, Fi.
Jangan gampang memberikan hati ke anak band kayak Ari. Playboy tuh orang.” Afi tampak tidak percaya. “Buktinya, lo baru
nyapa dia kemarin, kan? Masa Ari udah berani dadah gitu. Lo itu harus jual mahal
ke cowok, biar nggak diremehin.” Afi hanya mengangguk mengiyakan. Entah ia mengerti atau tidak. Huh,
dasar Afi.
Sementara itu di ruangan lain Ari
tengah melamunkan seseorang. Afifah Triana Wicaksono, ya ia tahu orang itu.
Dipandanginya robot Ultraman berwarna biru pemberian Afi. Ia jadi teringat
wajah Afi ketika menjawab pertanyaannya tentang robot kemarin. Ia tersenyum
pelan. Sebenarnya, ia tahu kamera sedang menyorotnya ketika ia mendekati gadis
itu, tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin sekali saja mengobrol dengan gadis
lugu yang sudah lama ia perhatikan itu. Apapun yang berada pada gadis itu mampu
membuatnya bersemangat. Sambil menyentil kening benda biru di tangannya, Ari
mengangguk pelan dan tersenyum puas. Ya, dia harus melakukan sesuatu. Ari tidak
sabar menunggu hari esok.
Suasana sepulang sekolah selalu
ramai. Dya dan Afi berjalan bersisian menuju gerbang sekolah. Dya bersyukur
karena hari ini ia berhasil menyembunyikan Afi di dalam kelas. Tapi kini ia
kembali merasa was-was. Keberhasilannya sedari pagi itu bukan tidak
memungkinkan bahwa Afi dan Ari akan bertemu saat pulang sekolah.
Langkah Dya dan Afi berhenti. Di
tengah lapangan telah berdiri stage
kecil dan di atasnya berdiri Ari dengan gitarnya. Setelah mata Ari mendapati
Afi yang berdiri tercengang membaca spanduk besar bertuliskan “ARI untuk AFI. Love You, Afifah Triana Wicaksono”, ia
langsung memetik senar-senar gitarnya. Dari mulutnya terdengar alunan indah
lagu Inilah Cintaku-Petra Sihombing. Kerumunan yang terbentuk di sekitar
panggung itu bersorak riuh ketika menyadari si obyek yang dimaksud Ari sudah
berada di TKP.
Dya menyikut lengan Afi pelan
setelah dilihatnya sahabatnya itu hanya mematung mendengarkan suara Ari. “Ingat
pesan gue.” Afi hanya mengangguk tak peduli.
Setelah satu lagu selesai, Ari turun
dari panggung. Ia membelah keramaian dan berjalan menghampiri Afi. Ia
menunjukkan tangan kanannya yang sedari tadi tersembunyi di balik punggung. Ari
mengangsurkan setangkai mawar merah ke hadapan Afi.
“Would
you be my girlfriend?” sorakan anak-anak semakin ramai setelah mendengar
pertanyaan itu keluar dari mulut Ari. Sebaliknya, Dya yang masih berada di
samping Afi tampak jengah dan mencibir tanpa suara.
“Nggak.” jawab Afi spontan. Keriuhan itu
langsung berubah menjadi sepi. Wajah bahagia Ari yang penuh optimistis itu pun
pergi entah kemana.
“Apa?” tanya Ari tak percaya.
Padahal selama ini ia yakin bahwa gadis ini amat sangat tergila-gila pada
dirinya. Ari pun tidak mengerti, mata Afi masih menunjukkan binar-binar bahagia karena persembahan
yang diberikan Ari, tetapi kenapa ia menolak?
“Iya, gue nggak bisa jadi pacar lo
karena gue harus jual mahal,” Dya yang mendengar jawaban Afi langsung menepuk
dahi tak habis pikir. “Lo itu anak band, pasti punya banyak fans. Gue nggak mau
diremehin sama lo.”
lanjut Afi masih dengan enteng.
Ari memandang Afi dengan tatapan
kosong tak mengerti. Baru kali ini ia ditolak cewek dengan alasan yang sangat
tidak masuk akal, yah, ia memang tidak pernah ditolak.
“Tapi, tapi,” Afi kini mulai panik.
“Tapi gue sebenernya juga suka sama lo. Gue pengin banget jadi pacar lo, kok.
Bener. Cuma.... ya itu tadi, Ri.”
Ari menggeleng pelan tak percaya. Kepolosan yang diberikan Afi sungguh sukses
membuatnya heran sekaligus jatuh hati. Sedangkan Afi masih terlihat plin-plan
dengan jawabannya sendiri.
Kerumunan yang tadi sibuk bersorak
riuh kini mulai meninggalkan lapangan dengan sebelumnya menghela napas kesal.
Ternyata ada aja ya cewek cantik yang polosnya kelewat bloon. Dya ikut-ikutan
meninggalkan Ari dan Afi berdua. Dya sudah tidak mau ambil pusing dengan
mencegah Afi agar menjauh dari Ari. Biarlah mereka menyelesaikan urusan mereka
sendiri.
“Jadi, gimana?” tanya Ari bingung.
Afi menggigit bibirnya pelan, “Gue
juga bingung, menurut lo gimana?”
BIODATA
Halo, perkenalkan ini karya kami. Aku Lulu
Nur Afifah dan temanku Hafshah Widya Arini. Kami bisa dihubungi di FB: Lulu Nur Afifah dan Hafshah Widya Arini, twitter:
@Fifah_LNA dan @hafshahwidya
Alhamdulillah :D
By the way last month, I and Widya, my best friend, make a short story and join a competition. And lucky us, we win with 20 other finalist. We are totally happy since it was our first time make a book of ours. Thank God. And I just want to post that after this. Actually the theme of that competition is "Hal yang paling gila yang kamu lakukan untuk cinta." and genre is comedy. Our title is 'Menurut Lo' We, Widya and I ever think that our short story doesn't compared with that genre. But Alhamdulillah Allah give us a chance. Hopefully, this is can be the start for two of us.
For you all, never stop fighting for your dream. Believe in your self that you can reach that one days. So, fighting! Oh,ya.. hopefully you can enjoy our ss.
For you all, never stop fighting for your dream. Believe in your self that you can reach that one days. So, fighting! Oh,ya.. hopefully you can enjoy our ss.
Subscribe to:
Posts (Atom)

