Saturday, December 14, 2013

Ketika Cinta Itu Pergi

“Yeeee! Congrats yaa Tia!” ucap Nia ketika aku melewatinya di lorong sekolah.
“Selamat, selamat.” teriak anak-anak kelas XI yang berebut mengucapkan selamat kepadaku. Semuanya tersenyum penuh ketulusan.
“Tiara, selamat ya. Semoga mulai sekarang kamu jadi tambah percaya diri.”ucap Dika ketika aku tidak sengaja berpapasan dengannya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum malu.
Hari ini adalah hari yang luar biasa buatku. Pagi ini sekolahku melaksanakan upacara seperti biasa dan diakhir upacara namaku dipanggil untuk mendapat penghargaan dari Bapak kepala sekolah. Minggu lalu aku mengikuti lomba speech di SMA Tiara Bangsa dan atas pertolonganNya aku memenangkan perlombaan pertamaku itu. Oleh karena itu, aku mendapatkan sangat banyak ucapan selamat dari teman-temanku.
Aku memasuki kelas dengan wajah bersemu. Berterimakasih atas semua yang telah orang-orang ucapkan kepadaku. Aku sungguh sangat tersanjung hari ini, hal yang sangat jarang buatku. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk satu minggu yang akanmelelahkan ke depan.
“Ra, selamat ya. Kita tau sebenernya kamu emang jago kok, cuma mungkin selama ini kamu kurang percaya diri aja.” ucap sahabat baikku, Tika.Aku hanya tersenyum.
“Oh iya Ra, gimana komentar ortu lo?” Tanya Kira polos. Aku termenung,mama sama papasebenernya udah aku kasih kabar tapi mereka masih belum komentar apa-apa.
“Gatau juga Ki gimana. Aku belom kasih tahu.”ucapku berbohong dengan penuh senyum palsu. Kira dan Tika hanya menggeleng.
“Kamu yang sabar, ya Yara. Mungkin emang butuh waktu.” ucap Tika sambil mengelus tanganku lembut. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum.
            “Oh iya Ra, kamu mau pulang sama siapa? Aku pulang barengan Kia nih, mau gabung ga?” tanya Tika lembut kepadaku. Hampir saja aku mengiyakan jika aku tidak melihat mobil yang menjemputku sudah ada di tempat parkir.
“Gausah deh Ka, aku pulang sama Pak Beno aja, itu udah jemput.” jawabku setengah hati.
“Oh yaudah kalo gitu kita duluan ya.” Tika dan Kira pun berlalu dengan mobil jeepnya. Akhirnya aku sendiri lagi, menghadapi hari yang entah akan bagaimana. Hmm… Tuhan, kuharap hari ini tidak akan merepotkan.
Sesampainya di rumah aku sudah bisa menebak, pasti kosong, tidak ada orangsama sekali. Seperti biasa aku langsung masuk ke dalam kamarku dan memilih untuk mengurung diri di dalam kamar hingga ada orang yang datang. Aku merasa sangat lelah hari ini, mungkin tidur siang akan cukup membantu.
“No, it is not only your choice, it is our choice!”
“Whatever you say, I just want to leave all this. This all going me crazy.”
“Tapi kamu ga bisa gitu Tiara itu anak kita berdua, bukan cuma anak kamu aja.”suara mama..
“Tapi aku yang ngasih dia makan dan fasilitas lainnya.” Suara papa….
But…………” suaranya hilang…. Mama… Papa… kemana?
Jam berapa sekarang? Aku langsung melihat jam yang ada di sebelah kiri tempat tidurku. Oh, sudah jam 6 sore rupanya. Aku yang masih kebingungan akhirnya memilih untuk bangun dan duduk di kasur. Karena pusing, aku mencoba untuk meminum air yang ada di meja belajarku. Beberapa saat kemudian aku baru merasa lumayan.
Mama papakenapa sih setiap hari bertengkar?Mama papa seharusnya tidak mengalami hal-hal seperti ini. Pasangan kekasih sejak SMA yang selalu akur tidak mungkin jadi begini. Memang, mama dan papa memiliki budaya yang berbeda. Papa yang orang Perancis sedangkan mama orang Indonesia. Tapi apayang sebenarnya jadi masalahnya? Pusing, aku pun mengusap kepalaku pelan. Beberapa saat kemudian pintuku diketuk oleh seseorang.
“Nona, sudah waktunya makan malam. Sudah ditunggu Nyonya.” ucap Bi Inah, kepala pembantu di rumah ini.
“Iya, Bi. Aku turun.”jawabku yang langsung berjalan menuju ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, aku langsung duduk tepat di depankursi mama. Aku melihat ke sekitar dan tidak ada ciri-ciri keberadaan papa. Aku pun menunduk lesu. Terlalu tinggikah mimpiku jika aku berharap kami bisa makan malam sekeluarga?
“Where is Dad, Mom?” tanyaku seperti kebiasaanku sesaat setelah aku duduk di depan mama.
Going somewhere. Katanya masih ada kerjaan yang belum selesai, mama juga gatau kemana. Mama udah ga ngerti lagi sama papamu itu.”jawab mama skeptis. Aku? Hanya bisa menghela napas berat berkali-kali. Tapi tetap kuusahakan untuk tersenyum tipis ketika mama melihat ke arahku. Dan tidak lama kemudian, papa keluar dari kamar dengan pakaian lengkap dan menuju keluar rumah dengan sangat terburu-buru.
“Adrian…. Where you will go? Don’t you want to say good bye first to us?” tanya mamaku ketika sadar aku memerhatikan papa yang hampir lewat begitu saja di hadapanku tanpa menyapaku sama sekali.
“Oh please Clara, I don’t have more time for that. I have to go now.”jawab papaku dengan tegas, masih tidak mengacuhkanku. Mamaku mencoba untuk berbisik pada papaku.
“Tapi Clara, aku sedang terburu-buru!” dan mereka pun bertengkar dalam bahasa Prancis, bahasa yang tidak ada seorang pun mengerti di rumah ini. Mereka terus bertengkar tanpa sadar disini ada aku yang terdiam seperti patung melihat mereka. Dan ketika pertengkaran mulai memuncak, aku bersaha untuk menghentikannya.
Daddy please stops it! It will not working to always fight every time. You both are wasting time too much.”
“You know nothing, Tiara. You will never understand what we are talking about, so just silent and sleep. You are too young to know our problem!”
“Adrian!” teriak mamaku pada papaku dengan tangan hampir akan menampar papa sedangkan aku menganga tak percaya papaku bisa mengatakan itu. Tanpa disadari air mataku jatuh ke pipiku, tetes demi tetes. Wajah papaku yang kaku akhirnya sedikit mengendur. Setelah melihat air mataku, mamaku langsung mencobauntuk memelukku dan papaku berusaha untuk mengelap air mata yang mengalir di pipiku. Aku berontak. Aku menangis deras.
“Tiara, sorry I said that. It is out of my control.” pinta papa sambil mencoba merangkulku.
Don’t touch me……” namun papa dan mama tetap ada diam di tempatnya tanpa merubah posisi sedikit pun. “DON’T TOUCH ME I said, don’t you hear that? Don’t touch me, don’t touch me!”
“Tiara, kamu ga boleh ngomong gitu.”
Mama yang ga boleh ngomong gitu. Mama ga ngerti sama aku, mama ga kenal aku, bahkan mama sama papa gatau kan kalo aku menang lomba speech yang kuikutin kemaren? Jadi sebenernya mama sama papa yang ga berhak ngomong gitu ke aku! dan tepat setelah itu, aku langsung lari kearah kamarku dengan air mata terus bergulir.
Aku melesakkan seluruh wajahku ke bantal, kubiarkan bantalku menjadi basah kuyup, aku sudah tidak peduli lagi. Kedua orang tuaku, orang yang selama ini sangat aku banggakan ternyata bahkan tidak mengenalku, tidak menganggapku ada. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tanpa merasa perlu untuk mengurusku. Danaku kesepian lagi, sendiri memandangi langit malam tanpa bintang. Oh Tuhan… inikah memang jalanku?
Hari pun berlalu begitu cepat. Tak kurasa ini sudah pagi hari, rupanya semalam aku ketiduran. Tidurku nyenyak tanpa mimpi. Semalam… hmm bahkan mereka tak mencoba untuk merayuku untuk memaafkan perbuatan mereka. Sudahlah lebih baik aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Aku mendapat firasat bahwa hari ini akan sedikit menghibur.
Sesampainya di sekolah, baru saja aku memasuki gerbang tiba-tiba Dika datang dengan tasnya menyapaku.
“Hai, Yara. Kamu kenapa? Mukamu sembab begitu.” ucapnya bingung. Jantungku tiba-tiba berdetak dengan cepat dan bulu kudukku berdiri, seketika aku tegang. Ya ampun, masihkah tersisa tangisan semalam yang terlihat hingga pagi ini? Oh, tidak…
“Aku ga papa ko Dik, cuma kelilipan aja.” jawabku sekenanya. Aku tidak tahu mau menjawab apa lagi.
“Jawaban klasik, ya hahaha…. Jadi kenapa? Orang tua lagi?” tanyanya tepat sasaran. Aku yang tidak tahu harus menjawab apa benar-benar langsung mati kutu. Dika yang sepertinya mengerti langsung meraih tanganku dan mengusap bahuku pelan sambil berkata,
“You can trust me then.” Aku yang awalnya bersikukuh tidak mau memberi tahu akhirnya menyerah juga. Tepat ketika aku mulai bercerita, air mataku mengalir. Berat rasanya menahan air mata ini untuk tidak keluar. Pada akhirnya aku menceritakan semua kejadian semalam pada Dika. Air mataku tumpah ruah tak tertahankan mengalir deras seperti air terjun. Ia mengenggam tanganku erat dan sesekali mengelusnya jika ia merasa bersimpati. Setelah selesai bercerita, air mataku mengering. Dika hanya tersenyum penuh arti sedangkan aku merasa beban berton-ton yang selama ini ada di bahuku telah diangkat. Aku sangat lega ditambah lagi dengan keberadaan Dika yang menguatkan dan senyumnya yang menenangkan.
Setibanya di kelas, mataku membesar dan pandanganku mengabur. Melihat keadaanku yang sangat kacau, Tika dan Kira membawaku ke UKS untuk beristirahat. Ketika sampai di UKS mereka sempat bertanya “Kamu kenapa, Yara?” Aku hanya tersenyum dan mereka mengerti apa arti senyuman itu. Mereka pun menyuruhku untuk beristirahat dan membiarkanku sendiri.Lalu dalam kesendirian, akupun tertidur dengan mudahnya.
“Yara… banguuunnn. Ayo ini udah jam pulang looh. Kamu hampir tidur seharian di sini. Ayo bangun!” teriak Tika tepat di depanku yang sukses membuatku gelagapan ketika bangun. Dan tepat saat aku membuka mata, aku melihat ada tiga orang di depanku. Tika, Kira dan……… Dika. Ya ampun, kenapa Dika jadi ikut-ikutan?
“Yara, lo yang kuat yah di masa kritis ini. Jangan kalah sama keadaan.” ucap Kira tiba-tiba.
“Iya, Ra… kita percaya kok ini jalan yang terbaik buat kamu. Jangan nyerah dan tetap semangat yaa.” ucap Tika kemudian.
“Kalian tahu dari mana?” tanyaku bingung.
“Aku yang udah kasih tahu mereka. Gak apa-apa kan?” ucap Dika khawatir seraya mendekati tempat tidurku satu langkah. Wajahku tiba-tiba memanas dan jantungku berdegup lebih cepat. Tika dan Kira yang tahu aku pernah menyukai Dika serentak tersenyum penuh arti kepadaku.
“I..iyaa gak apa-apa ko Dik.” jawabku seadanya sambil memelototi Kira dan Tika. Ya Tuhan… kenapa reaksiku jadi berlebihan begini? Padahal tadi pagi masih biasa saja.
“Kamu yang tabah ya Tiara. Allah pasti ngasih jalan terbaik buat kamu. Semangat, ya.” ucap Dika dengan senyum. Senyum tulus yang menular karena sedetik kemudian aku merasakan sudut-sudut bibirku terangkat.
Waktu sudah menunjukkan jam 3 sore, aku diantar ketiga sahabatku sampai ke parkiran sampai aku menemukan mobil Pak Beno. Namun, aku sama sekali tidak menemukan mobil itu. Yang kutemukan sungguh diluar dugaanku, yaitu mobil papa dengan mama di dalamnya. Aku terpana sesaat, rindu akan pemandangan ini. Ketiga sahabatku yang tahu bahwa aku dijemput oleh kedua orang tuaku otomatis langsung pamit pergi dan sebelum pergi, mereka menyemangatiku dulu satu persatu. Aku hanya bisa tersenyum tipis.
Setelah mereka pergi, aku masuk ke dalam mobil papa. Beberapa menit awal mobil hening, tidak ada suara sama sekali, hanya helaan napas yang saling berkejaran saja yang kudengar. Lalu tiba-tiba mama memutar musik klasik yang dulu sering diputar oleh papa dan mama ketika berpergian berdua. Di tengah-tengah lagu, mama ikut bernyanyi. Suaranya merdu bagaikan kicauan burung kenari di pagi hari.Kulihat papa tersenyum tipis dari kaca depan. Mereka yang awalnya menatap kedepan tiba-tiba saling menatap sesaat tanpa sengaja lalu tersenyum bersama. Kurasakan percikan cinta yang menyenyat hati di dalam tatapan mereka. Aku terharu melihatnya lalu langsung memalingkan wajah.
Aku masih belum tahu kemana aku akan dibawa pergi oleh kedua orang tuaku. Mereka masih belum bicara kepadaku. Dan tiba-tiba di hampir akhir perjalanan mama bicara kepadaku,
“Kamu ingat Pantai Pangandaran, kan? Kita akan melepaskan penat kita sejenak disana.” ucap mama santai penuh senyum kepadaku. Aku terbelalak tak percaya. Mungkinkah ini suatu awal yang baru untuk keluarga kami?
“Tapi, mah, aku ga nyiapin apa-apa buat kesana.” kataku kegirangan.
We have already save it for you, babe. Don’t worry, just enjoy every time we have there. Oke?” ucap mama sambil mengelus kepalaku tiba-tiba. Sengatan listrik kasih sayang pun mengalir dari kepala yang mama sentuh ke seluruh tubuhku. “Thanks mom.”
Say it to your dad too. This is his idea.” ucap mama sambil memicingkan mata kearah papa. “Thanks, dad. It is amazing!” ucapku lalu tersenyum kearah kaca, dimana papa melihat senyumku dari situ.
Sesampainya di Pangandaran, kami check in ke salah satu hotel lalu beristirahat. Keesokan harinya kami langsung pergi ke pantai. Awalnya suasana canggung, namun berubah ketika papa mulai membuka pembicaraan kepadaku dan mama,
Why the situation is like these guys? We are in a holiday! Let have fun!”
“What we will do to make it fun, Dad?” tanyaku.
How about volley beach with clothes and jeans?” usul mamaku.
Aku tersenyum, “Okedeh.” dan kami pun mulai untuk bermain volley beach. A special volley beach family.
Malam menjelang, kami sedang duduk-duduk di pasir pantai sambil menunggu matahari terbenam. Suasana khidmat dan tenang. Semenjak tadi pagi, kami jadi akrab lagi, hening sekarang sudah berbeda dengan hening di hari kemarin. Benar-benar mimpi yang jadi kenyataan. Sesuatu hal yang sangat mengejutkan dari kedua orang tuaku. Hal yang tidak akan pernah kulupakan, salah satu momen terpenting dalam hidupku
Tiara…. Are you happy?” tanya mamaku tiba-tiba.
Sure, mom. Ini hal terindah yang pernah kita lakuin sebagai keluarga.” jawabku jujur. Mamaku tersenyum tipis, sangat tipis sehingga aku merasa itu bukanlah sebuah senyuman, melainkan suatu ejekan.
We have something to told, Tiara. An important thing.” Lanjut mamaku sambil melihat matahari yang mulaimenyelami lautan.
“Apa, ma?” tanyaku sambil menoleh pada mamaku namun mamaku malah menoleh pada papaku dan berkata “Tell her.” Papaku pun mengangguk lalu ia menghembuskan napasnya sebelum berbicara padaku.
We will get divorce, Tiara, soon.” ucapnya tanpa emosi. Suaranya hambar, namun matanya meluapkan banyak emosi dan kenangan yang menyakitkan.
What? Why?” tanyaku sambil berusaha untuk tidak marah.
“Kita rasa, kita udah engga cocok lagi, sayang. Gak ada lagi yang bisa kita pertahanin bersama. We are ends dan kita udah memutuskan.” ucap mama lembut sambil meraih tanganku, takut-takut aku kabur lagi.
“Tapi kalian kan punya aku. Kenapa kalian ga nyoba buat mertahanin aku aja sih? Padahal kan kalian udah saling cocok dari lama, kenapa waktu udah bersama malah harus pisah? Kita kan bisa bangun semuanya dari awal lagi, Tiara mau bantu kok. Kenapa harus cerai? Kena…” tanyaku tapi dipotong oleh suara papa yang tegas dan dalam.
“Tiara sayang, pernikahan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dijalankan. Banyak sekali permasalahan yang ada di dalamnya. Dalam pernikahan kita memiliki banyak tanggung jawab yang harusditunaikan dan papa sadar, papa lalai dan sudah tidak sanggup lagi untuk memenuhi tanggung jawab tersebut.Nanti, jika kita sudah bercerai, kamu akan tinggal bersama mama.” ucap papa dalam, aku meresapinya sambil diam-diam meneteskan air mata.
But I love you both. Aku sama sekali gabisa bayangin hidup pisah sama mama ataupun papa. Aku gamau nanti salah satu dari kalian bakal lupa sama aku.”ucapku yang sudah memeluk papa erat sambil membanjiri kaosnya dengan tangisku.
“Nothing will change, trust me. I will always loving you everytime and you will always be my angel, Tiara. Alasan lainnya adalah karena papa dipindahkerjakan ke Prancis, tempat kelahiran papa. Papa tahu kalian akan sungkan jika diajak kesana, apalagi mamamu sangat menyukai pekerjaannya disini. Kami terlalu work holic, terlalu kuat berdiri sendiri sehingga rasa saling membutuhkan semakin lama semakin terkikis diantara kami. Kami tidak ingin memperpanjang penderitaanmu dengan teriakan-teriakan kami lagi. Kami ingin kamu hidup bahagia.” Aku hanya menghela napas, papa lalu menjelaskan.
“Tolong berikan kami waktu untuk saling berpikir, biarkan kami merasakan bagaimana rasanya kehilangan, biarkan kami melepas kini daripada mempertahankan lalu menyesal kemudian. Jika kami memang berjodoh, kelak kami akan saling jatuh cinta kembali.” ucap papa lagi, aku hanya mengangguk-ngangguk mengiyakan. Tidak kudengar suara mama sejak tadi dan ketika kulihat mama, ia sedang menagis juga sepertiku tapi dalam versi yang lebih anggun. Mama duduk tegak, melihat matahari terbenam sambil bercucuran air mata, menangis tidak bersuara. Papa pun akhirnya merangkul mama dan memeluk kami bersama.
Hari ini adalah hari keberangkatan papa ke Prancis. Papa dan mama sudah bercerai dan seperti yang direncanakan, hak asuh jatuh pada tangan mama dan aku tetap tinggal bersama mama di Indonesia. Papa akan selalu menghubungiku setiap hari dan kami akan sering-sering ber-videocalling. Sekarang kami bertiga ada di bandara, melepas kepergian papa ke tanah kelahirannya. Aku mencoba untuk berdiri tegak dan tidak menangis. Aku tidak ingin memberikan kesan buruk disaat-saat terakhir papa disini. Ketika pesawat keberangkatan papa sudah terdengar diumumkan untuk berangkat, papa sedang menatap mataku dalam.
“Tiara, kalau nanti ada lelaki yang benar-benar mencintaimu dan kamu juga cinta padanya, kamu jangan terlalu mencintainya hingga memberikan hidup dan matimu padanya. Biarkan Tuhan yang menunjukkan jalannya padamu, oke?” ucap papa lalu mencium puncak kepalaku lembut dan memelukku erat tepat ketika aku mengangguk. Setelah puas memelukku, papa beralih kepada mama. Meskipun mereka sudah bercerai, aku masih tetap bisa merasakan cinta yang besar diantara mereka. Papa menatap dalam ke mata mama, menguraikan belit-belit cinta diantara mereka. Tangan papa menggenggam tangan mama dan mama balas menggenggamnya. Mata mereka menceritakan kenangan kisah kasih antara mereka di masa lalu. Tangan mereka saling meremas, semakin lama semakin erat dan puncaknya papa mencium kening mama sangat lama. Mama memejamkan mata meresapi setiap detik terakhir yang mereka miliki. Selama sesaat kulihat keinginan mereka yang besar untuk kembali, namun tiba-tiba papa langsung melepaskan dirinya dari mama, menarik diri dari kenangan masa lalu mereka.
Setelah itu papa langsung menuju ke pesawatnya. Kami saling melambaikan tangan. Mama tersenyum, begitu pula papa dan aku. Namun masing-masing dari kami tahu, bahwa hati kami sedang berusaha untuk melepaskan dan berusaha untuk tidak menangis.

Menurut Lo?

            Suasana belakang panggung usai penampilan The Band riuh. Dari jauh terlihat Ari and the gang menuruni tangga dengan gagah. Bertepatan dengan saat itu Afi mendengar pekikan banyak remaja seumurannya yang memanggil nama anggota band itu satu persatu. Yang diteriaki hanya mengangguk dan melemparkan senyum bangga yang tentu saja mengundang teriakan baru dari deretan tak beraturan di depannya.
Afi memfokuskan pandangannya lalu  mempercepat langkahnya mengekori anggota The Band yang terburu memasuki waiting room. Tanpa banyak berpikir, Afi menerobos maju lalu dengan penuh tenaga meneriakkan satu-satunya nama yang sedari tadi menghantui pikirannya, “ARIIIII!”. Seketika suasana hening dan puluhan kepala yang berdesakkan di depannya berbalik ke arahnya. Afi hanya terdiam dan kehilangan suaranya ketika orang yang dipanggilnya membalikkan wajahnya dan mengerutkan kening.
Orang yang dipanggilnya mendekat, Afi bisa merasakan detak jantungnya mulai berpesta tidak beraturan. Gugup, ia terus menerus memeluk paper bag yang hampir seharian ini bertengger di tangannya yang basah.
            Sorry, kita kenal, ya?” tanya Ari tepat ketika ia sampai di depannya. Afi menggigit bibirnya lalu menggeleng pelan. “Oh gitu, yaudah deh. Gue pikir gue pernah denger suara lo sebelum ini. Sini...” ujarnya tersenyum sambil meminta paper bag yang ada di tangan Afi. Afi mendadak merasa tidak memiliki tenaga dan tanpa ba-bi-bu langsung memberikan paper bag yang berada di tangannya. Sesaat setelah mendapatkan paper bag itu, Ari langsung mengeluarkan isinya.
“Robot?” tanya Ari bingung sambil mengangkat robot Ultraman yang ada di tangannya. Wajahnya terlihat geli. Afi dengan polosnya tersenyum lebar dan menjawab, “Iya. Biar kamu lebih kaya cowo mainnya robot, bukan malah main boneka.” Ari terkekeh dan pada saat itu juga hati Afi meleleh dan senyumnya merekah bahagia. Oh, Ari... Kehangatan yang Afi rasakan sukses membuatnya tak sadarkan diri. Ia tidak sadar bahwa adegan yang baru saja ia dilakukannya akan siap dilahap ribuan mata keesokan harinya. Bahkan ia juga tidak sadar akan perubahan air muka Ari semenjak mengobrol dengannya.
            Dya berjalan cepat dari gerbang sekolah menuju kelasnya di lantai dua, yang ada di pikirannya hanya satu: segera bertemu Afi dan meminta penjelasan tentang apa yang dilihatnya kemarin sore di televisi. Dya tidak habis pikir kenapa Afi nekat melakukan hal bodoh itu, bahkan di hadapan publik. Dya tidak ingin sahabat sejak kecilnya itu salah mengambil langkah dan akan mendapat aib yang tak terkira malunya dengan berada di dekat Ari, si vokalis The Band.
            “Afi, maksud lo kemarin apaan, sih?! Jangan melakukan hal bodoh kayak gitu lagi!” Dya langsung mencak-mencak di hadapan Afi sesampainya ia di kelas. Afi menunjuk wajahnya sendiri dengan heran. “Emang gue ngapain, Dya?”
            Nih anak benar-benar nggak tahu bahayanya gosip di media massa, ya? Belum sempat Dya membuka mulutnya mengajukan protes dan semua wejangan yang sudah ia siapkan sejak malam, seorang guru kimia bertubuh tambun memasuki kelas.
            Bel tanda istirahat berbunyi. Dya yang sudah menanti pelajaran Kimia dan English segera berakhir langsung menuju bangku Afi. Belum sempat ia buka suara, Afi sudah menariknya menuju kantin. Lapar, katanya dengan raut wajah yang aneh. Dya langsung sadar, ini pasti bukan hanya karena sekedar lapar.
            Koridor menuju kantin saat itu penuh sesak. Mayoritas murid menuju kantin yang sama dengan mereka karena hanya kantin di sebelah sanalah yang menyajikan menu bervariatif dengan harga yang terjangkau. Ditambah lagi, Afi berspekulasi kalau Ari pun akan menuju kantin yang sama. Benar saja, belum sampai di kantin, Afi dan Dya berpapasan dengan Ari yang berjalan dari arah berlawanan. 
Afi tampak grogi ketika mendapati orang yang paling ditunggu-tunggunya itu muncul di hadapannya. Tanpa disangka-sangka, Ari melambaikan tangannya ke arah Afi. Dya memasang muka garang. Namun sebaliknya dengan Afi. Entah apa yang ada dipikiran Afi, tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dengan cepat dan “BUK!!!” dahi mulus Afi sukses mencium tiang sekolah dengan keras. Bahkan bunyinya pun dapat mengubah ekspresi Dya yang awalnya menakutkan menjadi tercengang. Ari berhasil dibuat diam seribu bahasa dengan aksinya. Dengan satu tangan menutupi benjol besar yang tercipta di dahinya, Afi menarik tangan Dya untuk berbalik menuju kelas.
            “Lo kan tadi nyari-nyariin tuh orang, kenapa setelah ketemu malah mau kabur gitu? Gini kan hasilnya.” Dya mengompres luka Afi dengan es batu yang ia dapatkan dari kantin.
            “Kan gue grogi, Dya. Apalagi dia dadah gitu.” Kedua pipi Afi memerah seketika. Benar-benar wajah orang polos yang sedang jatuh cinta. Ralat, mungkin itu wajah orang bloon yang terjangkit virus merah jambu.
            Dya mendengus kesal. “Lo itu ya, Fi. Jangan gampang memberikan hati ke anak band kayak Ari. Playboy tuh orang.” Afi tampak tidak percaya. “Buktinya, lo baru nyapa dia kemarin, kan? Masa Ari udah berani dadah gitu. Lo itu harus jual mahal ke cowok, biar nggak diremehin.” Afi hanya mengangguk mengiyakan. Entah ia mengerti atau tidak. Huh, dasar Afi.
            Sementara itu di ruangan lain Ari tengah melamunkan seseorang. Afifah Triana Wicaksono, ya ia tahu orang itu. Dipandanginya robot Ultraman berwarna biru pemberian Afi. Ia jadi teringat wajah Afi ketika menjawab pertanyaannya tentang robot kemarin. Ia tersenyum pelan. Sebenarnya, ia tahu kamera sedang menyorotnya ketika ia mendekati gadis itu, tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin sekali saja mengobrol dengan gadis lugu yang sudah lama ia perhatikan itu. Apapun yang berada pada gadis itu mampu membuatnya bersemangat. Sambil menyentil kening benda biru di tangannya, Ari mengangguk pelan dan tersenyum puas. Ya, dia harus melakukan sesuatu. Ari tidak sabar menunggu hari esok.
            Suasana sepulang sekolah selalu ramai. Dya dan Afi berjalan bersisian menuju gerbang sekolah. Dya bersyukur karena hari ini ia berhasil menyembunyikan Afi di dalam kelas. Tapi kini ia kembali merasa was-was. Keberhasilannya sedari pagi itu bukan tidak memungkinkan bahwa Afi dan Ari akan bertemu saat pulang sekolah.
            Langkah Dya dan Afi berhenti. Di tengah lapangan telah berdiri stage kecil dan di atasnya berdiri Ari dengan gitarnya. Setelah mata Ari mendapati Afi yang berdiri tercengang membaca spanduk besar bertuliskan “ARI untuk AFI. Love You, Afifah Triana Wicaksono”, ia langsung memetik senar-senar gitarnya. Dari mulutnya terdengar alunan indah lagu Inilah Cintaku-Petra Sihombing. Kerumunan yang terbentuk di sekitar panggung itu bersorak riuh ketika menyadari si obyek yang dimaksud Ari sudah berada di TKP.
            Dya menyikut lengan Afi pelan setelah dilihatnya sahabatnya itu hanya mematung mendengarkan suara Ari. “Ingat pesan gue.” Afi hanya mengangguk tak peduli.
            Setelah satu lagu selesai, Ari turun dari panggung. Ia membelah keramaian dan berjalan menghampiri Afi. Ia menunjukkan tangan kanannya yang sedari tadi tersembunyi di balik punggung. Ari mengangsurkan setangkai mawar merah ke hadapan Afi.
            Would you be my girlfriend?” sorakan anak-anak semakin ramai setelah mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Ari. Sebaliknya, Dya yang masih berada di samping Afi tampak jengah dan mencibir tanpa suara.
            “Nggak.” jawab Afi spontan. Keriuhan itu langsung berubah menjadi sepi. Wajah bahagia Ari yang penuh optimistis itu pun pergi entah kemana.
            “Apa?” tanya Ari tak percaya. Padahal selama ini ia yakin bahwa gadis ini amat sangat tergila-gila pada dirinya. Ari pun tidak mengerti, mata Afi masih menunjukkan binar-binar bahagia karena persembahan yang diberikan Ari, tetapi kenapa ia menolak?
            “Iya, gue nggak bisa jadi pacar lo karena gue harus jual mahal,” Dya yang mendengar jawaban Afi langsung menepuk dahi tak habis pikir. “Lo itu anak band, pasti punya banyak fans. Gue nggak mau diremehin sama lo.” lanjut Afi masih dengan enteng.
            Ari memandang Afi dengan tatapan kosong tak mengerti. Baru kali ini ia ditolak cewek dengan alasan yang sangat tidak masuk akal, yah, ia memang tidak pernah ditolak.
            “Tapi, tapi,” Afi kini mulai panik. “Tapi gue sebenernya juga suka sama lo. Gue pengin banget jadi pacar lo, kok. Bener. Cuma.... ya itu tadi, Ri.” Ari menggeleng pelan tak percaya. Kepolosan yang diberikan Afi sungguh sukses membuatnya heran sekaligus jatuh hati. Sedangkan Afi masih terlihat plin-plan dengan jawabannya sendiri.
            Kerumunan yang tadi sibuk bersorak riuh kini mulai meninggalkan lapangan dengan sebelumnya menghela napas kesal. Ternyata ada aja ya cewek cantik yang polosnya kelewat bloon. Dya ikut-ikutan meninggalkan Ari dan Afi berdua. Dya sudah tidak mau ambil pusing dengan mencegah Afi agar menjauh dari Ari. Biarlah mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri.
            “Jadi, gimana?” tanya Ari bingung.
            Afi menggigit bibirnya pelan, “Gue juga bingung, menurut lo gimana?”





BIODATA
            Halo, perkenalkan ini karya kami. Aku Lulu Nur Afifah dan temanku Hafshah Widya Arini. Kami bisa dihubungi di FB: Lulu Nur Afifah dan Hafshah Widya Arini, twitter: @Fifah_LNA dan @hafshahwidya


Alhamdulillah :D

      By the way last month, I and Widya, my best friend, make a short story and join a competition. And lucky us, we win with 20 other finalist. We are totally happy since it was our first time make a book of ours. Thank God. And I just want to post that after this. Actually the theme of that competition is "Hal yang paling gila yang kamu lakukan untuk cinta." and genre is comedy. Our title is 'Menurut Lo' We, Widya and I ever think that our short story doesn't compared with that genre. But Alhamdulillah Allah give us a chance. Hopefully, this is can be the start for two of us.
      For you all, never stop fighting for your dream. Believe in your self that you can reach that one days. So, fighting! Oh,ya.. hopefully you can enjoy our ss.

Sunday, May 26, 2013

Bahagia Itu Sederhana


“Kyaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!! Gue telat! Gue telat!” teriak gue pas sadar habis banting alarm yang ketujuh kalinya. Hari ini hari pertama sekolah dan gue udah harus telat aja? Oh, God ampuni gue. Gue langsung muter otak dan nyari cara biar gue gak telat : gue loncat dari kasur, ngibrit ke kamar mandi, gosok gigi en cuci muka,hari ini gue gak usah mandi, itu rencana gue. Akhirnya gue langsung siap-siap loncat tapi… bruuukkk!! Sial, rencana sih loncat dari kasur, yang ada gue malah keguling dari kasur gara-gara kelilit selimut dan berakhir di lantai kamar. Sakit, emang. Gak mungkin engga. Tanpa mikirin badan gue yang udah remuk, langsung aja gue muterin kamar nyari handuk ,tapi gue gak nemu. Gue coba cari sekali lagi, tapi tetep gak nemu. Karena gak nemu, akhirnya gue nanya ke bunda.
“Bundaaa! Handuk aku dimana?”
“Bunda tadi liat di halaman belakang, Ana.” Oh My God! Bener! Semalem gue maen petasan plus kembang api di halaman belakang bareng Modric, kakak gue. Jadi gini ceritanya, semalem sebenernya gue udah tidur, tapi kakak gue lempar batu ke jendela kamar gue dari halaman akhirnya gue bangun en nongol nanya apa maksudnya dia lempar tuh batu. Eh, pas gue nongol tiba-tiba ada kembang api lewat depan muka gue, gue langsung tereak. Bukan takut tapi kepalang seneng. Gue emang cinta mati sama kembang api. Akhirnya gue gabung maen bareng dia, bahkan nyuruh dia beli kembang api lagi dan lagi. Sampe akhirnya kita berakhir jam 2 pagi. Gue bawa anduk buat gue jadiin semacam selimut gitu, habisnya dingin sih -__- mana jaket gue gak ada yang anget -__-. Nah, gitu ceritanya. Jadi sekarang otomatis gue lari kebawah, ke halaman, nyari handuk, ke kamar lagi, buru-buru cuci muka, gosok gigi, pake baju en sarapan.
Pas udah siap gue langsung  turun kebawah tanpa takut ada orang yang sadar bahwa gue enggak mandi. Gue kan udah pake buanyakk banget parfum tadi,haha. Tapi ada seorang yang bikin gue kesel. Ya, kakak gue. Masa berani-beraninya dia menjatuhkan harga diri gue di depan bunda sih? Itu kan keterlaluan namanya! Grrrrr…
“Eh, lu gak mandi yah on?” kakak gue manggil gue oon dari dulu.
“Eh, enak aja lu. Sembarangan kalo ngomong! Kata siapa gue belom mandi? Elu kali :p”
“Sori yah on, tapi keliatan sih buat gue.” Dia sok ngelus kepala gue.
“Ngasal lo. Gue udah seger gini masa dibilang belom mandi sih?” gue tepis tangannya sambil sedikit melintir tangan dia biar gak megang-megang kepala gue lagi.
“Ih, jangan melitir tangan gue juga dong lu on. Dibilangin lu gak percaya sih, tuh keliatan kulit lu pada keriput-keriput gitu.” Disini gue udah mulai liat kulit-kulit gue.Perasaan tadi udah gue kasih pelembab deh. Dan pas gue mau bales, bunda dateng dan ngelerai gue ama dia yang ngeselin tujuh turunan itu.
Gue ngangguk ke bunda terus duduk di bangku gue. Habis itu-seperti kebiasaan gue-gue liat kursi ayah yang kosong sambil manyun. Sekilas gue juga liat bunda merhatiin kursi kosong yang harusnya ditempatin sama ayah. Tapi saat itu gue gak terlalu peduli karena masih sibuk nyium bau parfum sendiri. Ini seriusan gak kecium kan kalo gue belom mandi?
                Akhirnya kita berangkat sekolah juga kaya biasa, tapi parahnya di tengah jalan kakak gue yang kacau itu minta berenti dan ke warung sebentar. Gue tanya mau apa dia cuma nyengir. Ampun dah gue punya kakak kayak gitu,amit-amit. Dan liat hasil dari kerjaan kakak gue tadi. Gue jadi telat ke sekolah. Gerbang udah ditutup dan finally gue harus nunggu sampe waktu istirahat. Geregetan gue! Aaahhh kakak gue ini emang nyebeliin!!
“Eh lo kakak durhaka sama adek,ya!”
“Gue? Apaan lu on? Enak aja ngatain gue kayak gitu!”
“Gue pagi ini ada ulangaaaann!! Dan karena sekarang gue dikurung diluar, it means ntar gue ulangan sendiri! Uuuhh,, kakak durhaka emang lo!”
“Yee terus apa masalahnya sama ulangan sendiri? Kecuali kalo lo udah janjian mau nyontek.”
“Kaga lah, emang gue kurang diajarin apa sama bunda? Bunda kan jelas-jelas ngajarin kita biar gak suka mencuri! Nyontek kan nyuri jawaban orang.”
“Yaudah, gak ada masalah, dong?”
“Ih, iya elo gak ada masalah. Elo senior. Gue junior, baru masuukk………. Lo gak tau apa ntar temen-temen lo bakal ngapain gue?”
“Ohh, tentang yang diolok-olok en dijailin itu ya? Haha, lo takut sama temen gue? Siapa?”
“Yee gue gak katakut, ngapain gue takut kalo gue gak salah.”
“Nah terus? Lu ribet banget deh, masalah gak penting aja lu permasalahin segini gede? Lu adek gue yang brutal en nyebelin, inget?”
“Sialan,lo.” Gue diem. Ga berani ngomong. Aduuuh gue maluu sebenernya bukan sama siapa-siapa, tapi sama…. Ehem… Kak Dika. Temen deket kakak gue yang keren abis. Ya masa gue telat ketauan dia? Aduh, malu gue~ aaah udah udah lupain ajaaaa, gak penting.
“Eh, kalo tadi lo gak ke warung kita gak mungkin telat gini,ya!” kata gue nyolot.
“Sadar dong, pas gue minta berenti aja kita udah telat, padahal masih setengah jalan,kan? Gara-gara siapa? Gara-gara lu telat bangun,kan?”
“Yee siapa yang ngajakin gue main petasan?”
“Siapa yang nyuruh gue beliin kembang api baru? Ampe kita begadang gak karuan? Gue udah mau tidur dari jam 11, ya kalo lu gak nyuruh gue beliin kembang api baru!”
“Ah, lu sih make ngajakin main, kakak durhakaaaaaaa.” gue cubit aja dia, kesel gue nyalahin gue mulu  dia.
“Ih, lu genit ya sama kakak lu sendiri? Gimana sama orang lain?” gue melotot. Apa kata dia?
“Sumpah ya lu beda banget sama ayah. Ayah itu lembut dan baik hati. Kan gue turunan bunda tuh, anggun, tapi kok lu gak mirip sama ayah sih?”
“Hah? Anggun dari mana lu ya?” gue mukulin dia pake tas gue, nyebelin banget deh punya kakak macem gini. Tiba-tiba dia ngomong “Eh, ngomong-ngomong, kapan yah terakhir kali kita liat bunda sama ayah bareng?”  gue nunduk, mikir. Bener juga sih kata dia. Aduuh, lama-lama gue kangen kan jadinya.
“Gak tau nih kak. Gue juga sedih sebenernya, terakhir liat bunda sama ayah masa kayanya mereka lagi berantem,kak.”
“Gue juga, ayah tuh terlalu workaholic. Berangkat subuh, pulang tengah malem, liburan jarang banget. Bunda kan jadi kasian.”
“Gue juga sedih nih kalo liat mereka, hubungan mereka jadi renggang banget gitu. Gue takut aja kalau endingnya mereka milih……emmmm..”
“Hush! Lo mikir apa sih? Gak mungkinlah.” Gue cuma senyum nunduk. Takut juga gue ngebayanginnya. Masih kebayang jelas dalem ingatan gue waktu kecil dulu, kita sekeluarga sering banget pergi piknik. Hampir tiap minggu. Liat bunda sama ayah akur banget, meskipun gue sama kakak gue sering banget iseng bareng jailin mereka, mereka bales bacandain kita bareng-bareng. Sedih kan gue. Itu terjadi sebelum ayah naik pangkat. Uhh, jadi kesel kan gue. Bunda…. Ayahh…. Gue ngelamun~
“Eh, lu barusan manggil gue ‘kak’ ya? Wow!” Lho, kapan? Oh iya gue sadar pas ngomongin ayah bunda.
“Yee, lu emang kakak gue, kan?” kata gue gak semangat nyolotin dia lagi. Tapi beberapa saat kemudian, semangat gue surut lagi, gue kepikiran bunda ayah. Dan kriiiiiiiiiiiiinnnnggggg habis itu bel istirahat bunyi. Gue dan kakak gue masuk ke sekolah. Tanpa peduli gue jalan nerobos  orang-orang. Baik yang micingin mata ke gue ato apa, gue gak peduli pokoknya. Meskipun gue junior, ngapain gue takut sama senior, sesuai kata kaka gue tadi. Gue jalan aja cuek di depan senior gue kalopun gue dipanggil paling gue cuma senyum dan nengok. Gak niat ngapa-ngapain lagi deh gue. Sekarang yang ada difikiran gue cuma satu. Bunda… Ayah… Hmmmm, kok gue punya firasat buruk yah? Astaghfirullah…
…….
                Dan firasat buruk gue makin menjadi jadi pas gue pulang ke rumah. Gue baru pulang jam 3 an habis pulang ekstrakulikuler  bulu tangkis. Pas gue mau belok ke kamar gue, gue denger  suara bunda  nahan tangis, gue membeku di tempat. Gak bersuara. Nguping.
“Mas, aku gak tau mau gimana lagi. Kalo mas gini terus aku ngerasa gak punya suami, mas.” Mas? Siapa? Ayah maksudnya? Bunda kan ga biasa manggil ayah “mas”. Gue mulai gemeter.
“Rin, aku emang sibuk. Sibuk banget. Aku kira kamu bisa sabar nunggu aku. Nerima aku meskipun aku masih dalam masa sibuk gini. Lagian biasanya kamu santai aja,kan?”
“Arin sedih mas tiap pagi liat kursi mas kosong. Arin gak tega sama anak-anak. Tiap pagi mereka liat kursi mas. Tapi mas gak ada.”
“Jadi kamu maunya gimana Rin?”
“Arin…. Minta cerai aja mas.” Gue jatoh. Kaget. Gue gak peduli lagi gue berisik ato enggak, gue bangun terus langsung lari ke kamar gue. Gue gak tau bisa apa dan mau ngapain lagi. Yang sekarang mau gue lakuin cuma satu. Modric, kakak gue. Gue harus kasih tau dia. Akhirnya gue telepon dia sesenggukan, dia awalnya bingung dan marah-marahin gue karena gue udah ganggu waktu dia, padahal dia lagi ada pelajaran tambahan. Akhirnya gue bilang “Ric, bunda ric…..”
“Bunda kenapa?” suara dia mulai khawatir.
“Ketakutan gue ric…. Bunda…… minta cerai……” gue nangis, Modric diem aja. Gak jawab sampe akhirnya matiin telepon sepihak. Gue gak tau harus gimana. Habis nangis, gue diem. Mikir. Bunda yang selama ini kalem dan pendiem ternyata mendem perasaan kaya gitu. Bunda kesepian. Gue kira bunda bahagia-bahagia aja kaya sekarang. Dan gue kira cuma gue yang kangen masa-masa kita bareng. Ternyata bunda juga. Tapi gue gak pengen bunda sama ayah pisah. Lagian kok tumben banget bunda gak sabaran? Gak lama, kakak gue dateng. Langsung nerobos kamar gue dan langsung duduk depan gue.
“Serius lo bunda ngomong gitu?”
“Iyalah, gue serius, masa masalah ginian gue boong sih?” gue masih nagis, eh dia malah ketawa. “Heh, serius dong lu jangan ketawa.”
“Lagian biasanya lu tuh nyolot,on. Tapi tumbenan sekarang enggak. Mata lu sembab gitu lagi.”
“Sumpah ya, gak lucu. Seriusan dong, gue gak tau mau gimana lagi. Tapi kayanya sih ayah sama bunda cuma kurang waktu berdua aja deh,makanya kaya gini.”
“Kalo gitu, gue ada ide buat nyisain waktu buat mereka.”
“Apa?”
“Kita ajak mereka piknik, gimana?”
“Hah? Kapan? Ayah mana bisa…” Modric motong omongan gue.
“Ntar gue ke kantor ayah nanya ke sekertarisnya, ayah ada waktu kosong kapan.”
“Kalo cuma sekali pikniknya.. Mana ngefek.”
“Kesananya kita bisa pikirin lagi deh pokoknya. On, orangtua itu sayang banget sama anaknya. Makanya apapun yang anaknya mau pasti diusahain.”
“Tau dari mana lo?”
“Taaaauuu aja.” Mata dia mulai jail lagi.
“Eh, siapa tau lo salah. Kan jadi susah ntarnya.”
“Lo kenapa jadi putus asaan gini sih? Santai aja, gue tau ortu kita masih saling sayang, jadi gak mungkin kalo mereka pisah, apalagi mereka punya pembuat onar kaya kita. Ya justru mereka bakal tambah bersatu lah buat ngejinakkin kita. Mikir ga lu?”
“Belom mikir kesana sih, gue putus asa duluan..”
“Ya elu sih, nangis di duluin. Udah, ntar gue kasih tau kapan. Lu yang urus acaranya mau gimana-gimana. Lu yang ajakin mereka, gue cengir-cengir aja ya ntar.” Dia siap-siap kabur dari kamar gue sambil nyengir.
“Eeehh enak aja lo! Lo ngapain dong kalo gitu?” gue udah mulai semangat lagi, loncat dari kasur sambil nyegat dia yang mau kabur dari kamar.
“Yang mikir siapa?” akhirnya gue lepas tangan gue yang lagi narik bajunya terus manyun gak jelas.
“Oke, dadaah adek kecil gue yang habis nangiiisss.” Terus dia ngibrit ke kamarnya. Gue cuma bisa teriak “Gilaaaaaaaaa lu.”
….
Ini harinya, hari  dimana gue sama Modric mau ngelancarin jurus-jurus gila kita, haha. Oke, semenjak hari itu, gue sama Modric sering ngobrol berdua mikirin tentang apa yang bakal kita lakuin nanti. Akhirnya, minggu kemarin sepulang sekolah dia diem-diem ke kantornya ayah terus diem-diem nanya–nanya ke sekertaris ayah. Sedangkan gue, sebisa mungkin bikin ayah sama bunda seengganya ngobrol sehari sekali aja. Meskipun awalnya susah banget karena gue harus ngajak-ngajak bunda begadang buat nunggu ayah, belum lagi gue yang suka ngantuk duluan sebelum ayah dateng. Tapi lama-lama semuanya berhasil. Seengganya waktu bunda ngobrol  sama ayah jadi makin banyak. Dan ayah juga kayanya seneng sama perubahan itu. Dan kemarin, gue ngajakin ayah sama bunda piknik lagi. Ditemenin Modric sih ngomongnya, tapi sesuai apa kata dia, dia cuma cengar-cengir doang. Akhirnya orang tua gue mau.
Emang sih daritadi gak ada adegan bunda nyuapin ayah yang lagi nyetir atau ngelapin keringet ayah kayak dulu lagi. Cuma hening di bagian depan mobil. Tapi dengan tingkat kejailan yang emang udah parah, gue sama Modric sengaja godain mereka dari bangku belakang. Dan kita enjoy banget ngejailinnya. Padahal mereka cuma kesipu-sipu malu doang. Enggak beda sama waktu kita gelar tikar, ayah bunda masih gak se-sweet dulu tapi udah lumayanan gak cuek-cuekan banget sih. Habis itu kita iseng-isengan aja ngajakin bunda sama ayah buat maen lempar-lemparan piring. Tapi kita ajakinnya berkelompok.  Kelompoknya gue sama bunda, ayah sama Modric. Dan dari situlah semuanya mencair. Kita mulai ketawa-tawa dan jail-jailan. Gak cuma gue dan Modric, tapi ortu gue juga udah mulai jail-jailan. Gak cuma saling jail, tapi mereka juga sekongkol buat jailin gue sama Modric. Asik banget deh pokoknya. Gak pernah gue ketawa selepas dan separah ini sebelumnya. Gue juga liat dari sinar mata bunda kalau bunda seneeeeenngg banget. Ayah juga kayanya gak kalah seneng. Apalagi Modric, dia sih kayanya bakal langsung minta traktir karena idenya lancar abis. Yah ternyata keluarga gue emang cuma perlu liburan bareng-bareng. Ngelepas penat dari kehidupan sehari-hari. Kaya dulu lagi. Tapi, gue sama Modric belum juga ngomong tentang ‘itu’. Meskipun mungkin mereka bisa mikir ulang nanti, tapi gue pengen denger pendeklarasian mereka bakal sehidup-semati itu sekarang. Gak ditunda lagi. Akhirnya, pas kita lagi duduk-duduk sambil cerita tentang cerita lucu masing-masing, gue nyikut Modric. Gue pake isyarat mata minta ke dia biar kita cepet-cepet ngomong ‘itu’ sebelum pulang. Lagian ini juga udah sore banget. Matahari sebentar lagi tenggelam. Dan akhirnya, dia yang mulai duluan.
“Bunda, ayah…. Kita mau ngomong sesuatu.” Dia nyikut gue suruh ngomong.
“Oh iya bundaa… aku…. Aku……” gue gatau harus ngomong apa, Modric melotot terus langsung ambil alih.
“Jadi bunda,ayah. Nat pernah denger kalian berantem secara gak sengaja. Dan saat itu kebeneran dia denger kalo bunda minta cerai, bener bunda?” bunda langsung nunduk. Terus angkat kepala lagi dan senyum ke kita berdua.
“Kita pengen bilang, bunda, ayah. Kalau kita gak mau hal itu terjadi. Kita masih bisa kok seneng-seneng sekeluarga kayak gini. Gak usah pake pisah-pisahan segala. Kita gak mau.” Kata gue.
“Maaf yah Ana, kamu jadi harus denger hal yang gak penting.” Bunda ngeliat ke mata gue dan ngangguk. Oh,ya bunda emang suka manggil gue Ana, nama gue kan Anatasha. “Iya, waktu itu bunda pernah minta cerai. Tapi pas itu bunda bener-bener lagi ngerasa kesepian. Setiap pagi ayah kamu udah berangkat dan malem pas bunda udah tidur ayah kamu baru pulang. Dan di pagi dan malem itu bunda cuma ngelayanin ayah kamu sekadarnya, cuma sekadar masangin dasi, bikinin teh, nyiapin baju. Dan  bunda udah serasa jadi robot karena hal itu-itu mulu yang diulang. Bahkan kalau ada masalah, bunda gak tau mau cerita sama siapa.” Bunda berenti nahan air mata. Gue jadi ngerasa bersalah, karena selama ini gak peka sama perasaan bunda. Cuma gue aja yang minta dingertiin, tapi gue gak mau ngertiin.
“Bunda, maafin aku ya kalo selama ini aku terlalu egois ke bunda. Nanti kalo mau cerita kan ada aku ya bunda, ya? Bunda gak boleh nahan semua itu sendiri disini.” Gue nyentuh dada bunda seakan-akan itu hatinya bunda. “Nanti bisa jadi penyakit.” Bunda senyum, setitik air mata mengalir.
“Bunda suka gak tega sama kamu, Nat. Bunda gak mau ngebebanin kamu.” Modric yang kayanya mau angkat bicara langsung dipotong sama bunda “Kamu juga, Ric. Kamu harus fokus sama ujian kamu. Makanya bunda gak mau ganggu. Sama ayah kalian juga, bunda gak tega. Ayah kalian udah sangat capek setiap pulang kerja. Bunda gak mau tambah ngebebanin ayah kalian. Bunda gak mau ngebebanin siapapun.”
“Bunda, kita ini keluarga. Dalam keluarga gak boleh ada yang dirahasiain. Aku gapapa kok bunda kalo bunda mau cerita. Lagian kan kita bisa cerita sambil santai kaya sekarang bunda.” Ucap Modric yang sukses bikin gue nganga, tapi gak lama. Gue langsung ngangguk setuju habis selesai nganga. Habis itu, gue sama Modric langsung liat ke arah ayah yang kayanya daritadi diem dan merenung. Ayah yang sadar kita liatin akhirnya angkat bicara juga.
“Selama ini saya kira kalau saya mencari uang sebanyak-banyaknya keluarga saya akan senang. Tapi ternyata tidak semua teori seperti itu benar. Saya sebagai kepala keluarga meminta maaf sebesar-besarnya kepada kalian semua karena tidak care dengan kalian semua. Saya berjanji akan memperbaiki semuanya agar berjalan seperti sediakala lagi, untuk kalian semua. Orang yang saya sayangi. Dan saya juga harus meminta maaf kepada istri saya tercinta, Arin. Karena sepertinya saya tidak akan bisa meloloskan permintaannya untuk menceraikannya. Karena saya masih sangat ingin bertahan dengan keluarga yang saya cintai ini.” Mata gue berair, tapi ga nangis, bunda langsung mandang ayah penuh cinta, dan pas gue natap Modric………….. huekk nih orang malah melototin gue.
“Arin juga minta maaf yah sama mas kalo selama ini Arin malah terkesan cuek. Dan sama kalian juga, Ana, Modric. Karena bunda udah bikin kalian khawatir.” Gue senyum ngangguk. Modric jawab “Maafin Modric juga yah bunda, ayah kalo selama ini Modric belum sesuai sama yang kalian harepin. Modric  cuma mau kalau bunda, ayah dan Nat akur dan bahagia. Dengan gitu Modric juga bakal bahagia. Materi yang banyak itu gak penting buat Modric yah, dengan keluarga bahagia, Modric juga bahagia kok yah.” Dia tersenyum penuh arti. Gue buang nafas kecil. Bisa juga ya kakak gue yang nyebelin itu so sweet ke keluarga,haha.
“Yaudah berarti keluarga kita baikan ya semua?” Tanya gue. Semuanya teriak “ya” barengan sambil liat matahari terbenam dan dengerin azan maghrib. Ayah langsung rangkul bunda mesra, kaya dulu lagi. Dan gue seneng litanya. Ini berarti, selesai sudah tangis gue. Finished. Dan akhirnya keluarga gue becanda-canda lagi setelah azan maghrib berkumandang.
“Ayah,ayah, nanti kita piknik tiap minggu lagi ya yah?” pinta gue.
“Wah, ayah gak janji tiap minggu yah Nat, tapi kalo tiap bulan inshaallah ayah janji.”
“Hah yang bener ayah?”
“Iya, ayah janji, sayang J.” Kata ayah sambil ngelus kepala gue. Gue yang kepalang seneng langsung loncat-loncat gak jelas sedangkan kakak gue seperti biasa, ledekin gue.
“Heh, on! Ngapain lu? Kayak orang gila tau gak?”
“Biarin aja! Yang penting gue seneng!”
“Pasti lo berandai-amdai ntar lo ama Dika begini ya?” gue langsung diem. Dari mana dia tau kalo gue naksir sahabatnya yang satu itu? Dan gue inget, gue pernah kecolongan sama dia, haaaa jahat banget diaaa. Make sebut nama lagiiii…
“Heh! Gila lo Ric!” kata gue sambil melotot.
“Apa? Apa? Emangiya kan lo naksir DIKA yang temen gue itu?” dia ngulangin nama Dika sambil sedikit diteriakkin. Gue kesel, akhirnya gue kejar dia. Dan kita kejar-kejaran. Ayah sama bunda cuma senyum-senyum gak jelas liatin kita.
“Udah-udah, sekarang kita rapihin ini dulu, solat di masjid terdekat dan langsung pulang, ya.” Ucap bunda. Gue langsung berhenti sama Modric, ngangguk. Sebelum bantuin bunda beres-beres, sengaja aja gue deketin Modric dan nginjek kakinya sampe dia tereak kesakitan. Habis itu gue nyengir dan bantuin bunda. Dia cuma ngomong “Awas lu on.” Sambil masang wajah sok garangnya.
Dan sekarang ini, gue bahagia. Meskipun gue dikelilingi orang gila kaya kakak gue, tapi gue seneng. Apalagi kalo liat bunda sama ayah yang lagi pegangan tangan. Gue seeennneenng banget. Ternyata, buat bahagia itu sederhana, ya J.

A Perfect Prize


Besok gue ada lomba. Lomba pertama gue di SMA. Gue udah kelas XI, tapi gue belum pernah ikutan lomba sebelum ini. Sebenernya gue bukan tipe orang yang gak aktif kaya gini. Gue cukup sering ikut lomba waktu SMP. Tapi beda sama sekarang, sekarang gue rada pasif soalnya gue males sama peraturan-peraturan di sekolah gue. Sedikit membosankan, terlalu menekan. Tapi ya gimana lagi. Berhubung ini yang pertama dan terakhir buat gue, so gue mau nunjukin bakat gue sebaik-baiknya. Gue belajar keras tiap hari, berusaha fokus sama penjelasan apapun yang guru kasih. Pokoknya gue effort maksimum. Tapi sebenernya ada hal yang ngeganjel di hati gue. Gue takut, takut gabisa ngasih yang terbaik. Dan waktu gue asik melamun….“Brukk!”  gue ga sengaja tubrukan sama Avril, musuh bebuyutan gue.
“Heh! Apa maksud lo nubruk gue?” ucap Avril lantang. Gue sedikit meringis, jus yang Avril bawa tumpah ke lengan  baju gue.
“Lo tuh yang apa maksudnya numpahin jus lo ke gue.” jawab gue nyolot.
“Plis banget sadar diri siapa yang ngelamun terus nubruk gue, udah deh jangan nyari masalah lo sama gue.”
“Tapi lo juga sadar diri dong plis, liat nih tangan gue!” ucap gue dengan nada makin tinggi.
“Ya itusih salah lo sendiri, makanya jalan tuh pake mata, lagian lo lagi jalan tapi mata lo ga…….” Tiba-tiba seseorang yang dari tadi ada di sebelah Avril menyela,
“Udah deh Vril gausah diperpanjang, lagian lo juga ga kenapa-kenapa kan, justru si Sheila yang kenapa-kenapa.” ucap Dion. Gue yang ga peduli sama selaan Dion ke Avril langsung muter bola mata.
“Ya ampun Dion, orang ini yang pertama nyolotin gue, lo belain gue dong.” ucap Avril manja. Gue hampir muntah dengernya. “Hah…..” Dion hanya menghela nafas panjang. Avril tersenyum menang lalu tiba-tiba menggandeng tangan Dion. Dion hanya diam dengan mimik muka kesal. Avril yang lagi manja-manjaan langsung ngeliat ke arah gue.
“Plis deh ya, orang ga mutu kaya lo itu ga perlu so penting.” Habis ngomong gitu dia pergi sambil narik Dion so mesra. Gue langsung pengen muntah. Dan, tadi Avril bilang gue apa? Ga mutu kata dia? Liat aja, gue bakal buktiin kalo gue orang bermutu dibanding dia. Awas aja tuh orang!
Besoknya gue siap-siap dari rumah pagi banget. Tempat lombanya bukan di sekolah gue dan gue gatau dimana tempatnya jadi mau gamau gue harus berangkat pagi soalnya gue harus numpang Rara, yang mau lomba juga kaya gue. Tapi sebelum itu, gue harus pergi dulu ke sekolah dan nyari mobil. Gue takut telat. Soalnya kalo gue naek angkot dari jam segini, pasti macet belom lagi angkotnya nyari penumpang, mati aja gue kalo telat. Ditambah lagi, gaada satu angkot pun yang lewat dari tadi. Pas gue lagi panik, tiba-tiba ada orang naek motor tiger yang nyamperin gue. Terus tiba-tiba orang itu nyapa gue dengan santainya
“Hei, Shei.” Dion. Gue kaget sesaat, terus jawab tak acuh,
“Hai, juga.”
“Perlu tumpangan?” Tanya Dion sambil senyum. Gue langsung merhatiin Dion dari atas sampe bawah. Sebenernya, gue lagi menjauhi makhluk yang namanya cowo, gue ga percaya sama cowo. Bokap gue, yang selalu dapetin apapun yang dia mau dari nyokap gue, selingkuh. Padahal mereka udah nikah lebih dari 15 tahun. Gimana gue ga enek sama cowo. Tapi buat kali ini setelah dipikir-pikir, boleh juga, lagian kan buat lomba.
 “Seriusan?” Tanya gue setengah bingung.
“Beneran deh, lagian gue liat di belakang macet berat, gue aja nyelip-nyelip.” Jawab dia santai.
“Oh, pantesan aja dari tadi gaada mobil.”
“Jadi?” Akhirnya gue senyum ngeiyain daripada gue telat, terus Dion ngasih helmnya ke gue. Dan kita sama-sama pergi ke sekolah.
Sepanjang perjalanan gue fokus sama sketsa gue buat lomba dan waktu gue ga sengaja liat ke depan, gue kaget karena ternyata sekolah gue udah kelewat dari tadi.
“Yon, kita mau kemana? Gue harus numpang Rara nih masalahnya." Kata gue sedikit kesel. Kok nih orang semau dia banget sih, dasar cowo ga ada yang ga nyebelin.
“Tenang aja, Shei, gue yang bakal nganter lo ke tempat lomba.” Jawab dia kalem.
“Seriusan lo?” Tanya gue ga percaya.
“Iya, bentar lagi yampe.” Gue yang asalnya kesel mau ga mau jadi seneng juga dan akhirnya tanpa sengaja gue megang pinggang Dion. Sesaat Dion kaya negakin badannya gitu dan pas gue sadar gue langsung lepas pegangan gue. Ga lama, bener apa yang Dion bilang, kita nyampe ke tempat lomba. Tempatnya biasa aja, tapi tempatnya udah penuh sama orang yang mau lomba. Akhirnya gue turun dari motor, lepas helm, bilang makasih dan say good bye sama Dion.
Thanks ya, Yon.”
“Sip, Allah bless you, Shei.” Doanya, gue cuma senyum aja terus langsung ngedadahin tangan. Sebelum pergi, gue aminin dulu doanya.
“Amin. Gue duluan ya.” Habis itu gue langsung balikin badan.
“Eh, Shei, sebentar.” Panggil Dion sambil narik tangan gue, refleks, gue lepas tangannya dari tangan gue.
“Kenapa Yon? Any problem?” Tanya gue spontan, kaget.
No, it isn’t, cuma mau ngomong, ntar pulang lo gue jemput lagi ya.”
What for?” Tanya gue yang bener-bener ga ngerti apa maksudnya.
“Yaaa biar lo ga nyasar aja Shei, gimana?” jawabnya so cool.
“Ga usah, Yon. Ntar malah ada gosip ga jelas.” Gue jawab.
It will not be, trust me.” Ucapnya pake wajah memelas. Gue yang ga tegaan akhirnya ngeiyain juga.
“Yaudah kalo emang ga ngerepotin lo.” Dan dia senyum sambil ngomong,
Wait  me here at 3 pm o’clock ya Shei, see you.”
Alright then, see ya.”
Success!” ucapnya menyemangati.
“Amin.” Bales gue dan habis itu, motor Dion pun langsung ninggalin tempat dan ngilang di belokan depan sekolah. Gue langsung ke tempat registrasi ulang terus ke tempat lomba yang bakal gue ikutin. Melukis. Setelah sekitar sepuluh menit muter-muter nyari ruangan, gue akhirnya masuk ke ruangan gue dan duduk dengan khusyu disana. Gue ngelemesin otot-otot tangan gue, biar nanti ga kaku dan keram. Beberapa menit kemudian, lomba pun dimulai. Tema gambarnya hiruk pikuk perkotaan. Gambar yang kayanya bakal gampang-gampang susah dibikin. Sebenernya gue udah ada sketsa atau gambaran apa yang bakal gue lukis, tapi tetep aja susah buat ngewujudinnya. Sebelum mulai ngelukis, gue berdoa dulu ke Allah semoga Dia bantu gue buat ngerahin semua kemampuan gue sehingga gue bisa ngerjain lukisan ini semaksimal mungkin.
Empat jam pun berlalu. Panitia udah nyuruh semua peserta buat beres-beres. Sebelum gue keluar ruangan dan beres-beres, gue liatin dulu lukisan hasil karya gue dan berdoa lagi sama Allah, semoga Allah memberikan gue yang terbaik buat gue. Apapun itu, menang atau kalah, yang penting, yang terbaik. Lima menit setelah waktu berakhir gue baru keluar dari ruangan. Gue langsung ke kantin, gue laper. Dan setelah jajan beberapa snack, gue pergi ke tempat tadi janjian sama Dion. Gue ga yakin dia mau jemput gue. Ini kan masih jam sekolah. Dan ternyata diluar dugaan, dia udah ada di situ. Akhirnya gue langsung lari buru-buru ke dia.
“Hai, Yon, gue kira lo ga dateng.” Sapa gue.
 “Ga mungkin gue ga nepatin janji gue.” Jawab dia kalem sambil sedikit nenggakin kepala buat liat wajah gue.
“Ngomong-ngomong, gimana cara lo keluar dari sekolah jam segini?” Tanya gue retoris, gue kaya yang gatau aja dia gimana di sekolah.
“Ga penting banget deh lo ngomong gitu, lo kaya yang ga kenal gue aja.” Gue pun senyum. Dia berdiri terus langsung ngasihin helmnya ke gue.
“Emangnya lo tau rumah gue, ya Yon? Sampe mau nganter segala.” Tanya gue iseng.
“Engga juga sih, tapi kan gue bisa nanya sama lo dulu. Eh, Shei, lo laper ga?”
“Laper, kenapa emangnya?” gue udah merasakan hal ganjil disini, ngapain dia nanyain hal krusial gitu,ya?
“Makan dulu, yuk. Gue laper banget nih.” Ucapnya. Gue diem sejenak, mikir beberapa saat. Kira-kira baik ga ya nolak ajakan dia, padahal kan dia yang udah bantu gue hari ini. Gue gamau dikenal sebagai orang yang ga sopan, terima aja deh.
“Yang ngajakin yang traktir tapi ya.” Jawab gue akhirnya.
“Okedeh.” Dan akhirnya kita pun berhenti di salah satu ruko makanan pinggir jalan. “Pesen gih.” Dan tanpa ba bi bu, gue langsung pesen makanan, gue laper banget aslinya. Lima belas menit, sambil nunggu makanan, gue ngobrol sama dia. Sebenernya gue ga terlalu deket sama dia, cuma ga tau kenapa hari ini ko gue ngerasa deket banget sama dia ya? Gue juga ga ngerti.
“Shei boleh nanya ga?” ucap dia tiba-tiba, padahal sebelumnya kita lagi ngomongin tindakan ekonomi apa yang pas buat Negara kita ini. Biarpun ga jenius di kelas, tapi ternyata dia orangnya smart juga, cinta Negara, lagi.
“Mau nanya apa lagi lo?” jawab gue asal.
“Bener, ya.. Lo jangan marah gue ngomong gini.”
“Iya, buat apaan juga marah.”
“Gue suka sama lo, Shei.” Dan gue yang asalnya lagi ngunyah makanan otomatis langsung berhenti. Hening sejenak, terus akhirnya gue ngunyah lagi.
“Kenapa? Ko lo diem Shei?” Gue abisin makanan gue dulu, baru gue jawab.
 “Ya emang gue harus ngapain kalo lo ngomong gitu?” Dia cuma senyum. Dan gue gatau mau ngapain atau harus gimana.
“Lo itu kaya bintang buat gue, Shei. Ga kegapai. Udah lama gue naksir lo, tapi gimana, gue ga deket sama lo. Ga ada juga temen deket gue yang tau tentang lo, jadi selama ini gue, yaaah…. Suka sama lo secara diem-diem. Awalnya gue milih diem aja, karena gue gamau lo ngerasa risi, tapi lama-lama gue juga ga kuat nahannya. Sori ya kalo ini bikin lo ga suka.” Gue cuma diem, kesanjung juga, gatau kalo selama ini ternyata ada yang naksir gue dengan cara yang kaya gitu. Padahal gue kan ga populer di sekolah.
“Lo ga papa kan gue ngomong gini?” Gue senyum, terus jawab sambil tetep senyum.
“Engga kok, but thanks for like me, gue kaget aja kok bisa lo naksir sama gue.” Dia seyum,
“Gue juga bingung sebenernya kenapa bisa.” Kita senyum bareng.
“Lo nya gimana ke gue kalo gue boleh tau?” Gue diem, gue mau jawab apa? Gue lagi ga naksir siapa-siapa.
“Gue… jujur aja, lagi ga naksir sama siapa-siapa.”
“Trauma?” Tanyanya tepat sasaran.
“Iya, bokap gue…..” jawab gue jujur.
 “Oh.” Hening.
“Tapi boleh ga kalo gue mau pedekate-in lo?” Tanya dia polos banget, spontan gue ketawa.
“Hahaha, lucu lo, mau pedekate kok izin dulu.”
“Gue serius loh.” Gue diem lagi, gatau mau jawab apa. Dia udah gue tolak, tapi kok nekat banget kayanya. Gue emang lagi ga deket sama siapa-siapa. Dan gue emang lagi diskepercayaan sama cowo. Tapi itu bukan berarti gue nutup diri juga dari cowo. Jadi, gimana? Asalnya gue mau sengaja ga jawab, tapi dia ngeliatin gue segitunya, akhirnya gue jawab seadanya aja.
“Oh, yaudah sih itu terserah lo aja, tapi gue ga janjiin apa-apa loh.” Dia senyum.
“Oh, dan satu lagi, gue gamau Avril salah nangkep, gue bĂȘte sama dia, gue ga ngapa-ngapain aja dia sensi, bikin naik darah.” Ucap gue, sambil sedikit mengenang kisah antara gue dan Avril.
“Haha, oh itu…. Lo tenang aja, lo bakal aman dari dia mulai sekarang.”
“Tapi gue takut, gimana kalo ini malah bikin dia kesel?”
“Engga kok. Sebenernya dia itu cemburu sama lo, soalnya dia suka sama gue dan gue suka sama lo. Jadinya dia kaya gitu sama lo. Waktu gue nolak dia, dia nantang gue buat nyari tau perasaan lo ke gue, kalo lo suka juga sama gue, dia bakal ngalah.”
“Kalo engga?” Tanya gue, iseng.
“Gue bakal cari cara biar lo suka sama gue.” Gue langsung diem. Seserius itukah dia ke gue? Ga kerasa, sekarang udah sore. Gue yang gatau mau ngapain lagi karena udah stuck di obrolan tentang ‘dia suka sama gue’, akhirnya ngajakin dia pulang.
“Balik, yuk. Udah sore.”
“Sip.” Akhirnya dia berdiri dan nganter gue sampe rumah gue. Dan waktu gue mau masuk rumah, dia nahan gue lagi,
“Eh, Shei ngomong-ngomong, gue minta nomor hape lo dong.” Gue sempet diem dan keget sejenak sambil membatin gue pun ngasih nomor gue ke dia.
Beberapa minggu berlalu, hingga pada hari Senin pas upacara berlangsung, tiba-tiba nama gue dipanggil sama Ibu Kepsek, gue yang bingung terus maju aja. Dan waktu di depan, tiba-tiba gue di kasih piala “Selamat atas kemenangannya di lomba melukis se-Jakarta.” Gue kaget dan besyukur.
Otomatis setelah turun gue langsung nyariin Dion, tapi bahkan, sebelum gue sempet nyari dia, dia udah nunggu gue duluan di barisan. Sambil senyum jail dia bilang.
“Nah, apa gue bilang, lo emang jago.” Gue ga bisa berhenti senyum, gue seneng, apalagi... sekarang Dion lagi senyum ke arah gue. Gue jadi tambah seneng. Semenjak waktu lomba itu, Dion sering banget ngehubungin gue, mulai dari sms sampe nelpon gue. Awalnya gue sering cuekin dan diemin aja, tapi dia ga pernah nyerah. Intensitas ketemu gue sama dia juga jadi nambah. Sebisa mungkin dia selalu nyempetin ketemu sama gue, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Setiap gue lagi ada masalah, dia selalu bantu gue, dia selalu nyemangatin gue, dia juga sering bikin sureprize buat gue. Sureprize-sureprizenya sering dia sebut ‘penghargaan buat gue’ soalnya dia bersyukur banget suka sama gue. Seperti halnya gue sekarang, bersyukur banget dia ada disini. Dia, ngisi bagian dari hati gue yang sebenernya kesepian. Dan dia semakin lama semakin ngikis perasaan kesel gue ke cowo. Dia juga ngajarin gue ngerubah pendapat gue tantang cowo, bahkan tentang bokap gue.
Masalah Avril……. Dia bener-bener megang janjinya. Bahkan sekarang, dia udah ngeduluin gue sama Dion, Avril udah punya cowo. Waktu gue lagi asik nostalgia ngebayangin Avril sama Dion dulu, tiba-tiba Dion manggil gue dan ngerusak semua bayangan gue.
“Shei?”
“Ya? Kenapa Yon?”
“Boleh nanya sesuatu ga?”
“Mau nanya apa?”
“Lo mau ga jadi pacar gue?” Dan ga pake lama, gue langsung senyum dan ngangguk, dia ngeliat gue lega dan langsung ngerangkul gue. Akhirnya  gue punya cowo, nyusul Avril, cowo yang berhasil bikin gue suka sama dia, cowo yang selalu nyemangatin gue, dan selalu ada buat bantu gue, cowo yang udah ngasih penghargaan setinggi-tingginya ke gue melebihi penghargaan yang dikasih sekolah ke gue, hadiah dari Allah buat gue, Dion.

Saturday, April 13, 2013

The Tips!

           By the way, we are young and still be a student, so se-gaul dan se-famous apapun kita, kita tetep punya tanggung jawab sama orang tua kita tentang nilai kita. And, kebanyakan orang bingung sama metode belajarnya sendiri, jadi masih suka salah metode dan bingung buat konsentrasi. And that is the problem. So I'm searching about that and post it here now. So guys, lets find out the tips here!

Tips cara meningkatkan konsentrasi belajar (from Marthinz) :

1.      Hilangkan Beban dan Tugas-Tugas
If you have a homework, sebaiknya diselesaikan dulu agar tidak kepikiran terus-menerus pd saat kegiatan belajar berlangsung. Make priority thing to do dan jangan males!
2.      Think about The Future
Untuk menyemangati kegiatan belajar kita harus sedikit berandai-andai, yakni kalau kita sudah besar nanti akan sukses jadi org pandai, penghasilan besar, punya pacar cakep, dll. Dengan demikian maka kita akan menjadi lebih terpacu untuk meraih masa depan yang kita cita-citakan
3.      Jangan Terlalu Capek
Usahakan tidak membuat jadwal belajar dgn aktivitas fisik berlebih seperti olahraga, main seharian, jalan-jalan ke mall, dan lainnya. Kalau sudah terlanjur capek maka bljr sebentarpun sudah bisa membuat ngantuk. Bila pulang sekolah sebaiknya langsung tidur siang atau sore lalu stlh bangun tidur langsung belajar yg serius. Olahraga boleh, harus malah tapi jangan kelewatan. Keep healthy :D Kesehatan itu mahal loohhh :)
4.      Posisi Belajar Yang Pas
Belajar jangan dengan posisi tubuh yang salah seperti sambil tiduran, sambil jalan-jalan, sambil nonton tv, sambil ngobrol, sambil jongkok, dan lain sebagainya. Belajarlah dengan posisi duduk di meja belajar jika ada atau di meja dan kursi yang membuat kita senyaman di meja kursi sekolah atau kampus. Try it ya!
5.      Tempat yang tenang dan nyaman
Hindari lokasi belajar yg berisik/mudah menghilangkan konsentrasi belajar kita. Bila perlu menyendirilah anda di kamar tanpa suara apapun. Beritahu orang-orang di sekitar anda kalau anda sedang belajar dan mohon untuk tidak diganggu terlebih dahulu.
 6.      Cari Tahu Metode Belajar Yang Tepat
Coba saja aktivitas tertentu yang menurut kamu dapat menunjang masuknya materi pelajaran ke dalam otak. misal sambil mendengarkan musik, sambil menyanyi, sambil keliling-keliling, sambil corat-coret kertas. Or.... thinking about the nature, maybe?
7.      Strategi Menghapal Materi Pelajaran
Jika punya kesulitan menghapal/memahami pelajaran maka sebaiknya membuat rangkuman pelajaran yang mudah dimengerti dan dpt dilihat/dibaca-baca kembali jika ada yang lupa. Bisa juga membuat hubungan gmbr-gmbr yg mewakili point-poin pelajaran. Bisa juga merekam suara kita saat membaca materi pelajaran utk didengar kembali. Bisa pula membuat pertanyaan-pertanyaan tertentu yang atas materi yg telah dipelajari, dan lainnya.
8.      Istirahat / Break Jika Lelah
Jangan dipaksakan tubuh yang lelah untuk terus belajar karena tidak ada gunanya. Percuma bila dipaksakan pun bisa-bisa menjadi sakit seperti pusing, vertigo, demam, badan lemas, masuk angin, dan lain-lain. Pelajaran yang sudah dihapal pun mungkin saja bisa
9.      Lupakan Sejenak Masalah Cinta dan Pacar
Lebih baik jangan pacaran dulu kalau belum punya pacar atau buat kesepakatan sama pacar buat janji saling setia dan saling mendukung dalam kegiatan belajar mengajar.
            So, that it all. Gimana guys? Tertarik buat mencoba? Then, one last from me, you have to believe in your capability. Believe you can and never forget to pray to our God, Allah SWT. So, this is it, hopefully ini bisa bantu, ya...... Oh, yaa... fighting yaa :D I believe you can :) With love, Your Saturn :D

Sunday, April 7, 2013

Success?

"Jalan sukses itu ga cuma satu." thanks to said that, Mom and you. It is really push me up. I will never give up. You both are my energy :) Thank you. 
Oke, roda kehidupan itu berputar. Ga pernah engga. Allah juga udah pasti nentuin rizki dan bagian dari masing-masing orang. Jadi gausah terlalu kecewa dan menyesali sesuatu yangudah ga mungkin di rubah lagi. Life must go on. Kita gabisa terus-terusan mandang ke belakang dan stuck disitu. So, fighting! Buat semua orang yang lagi kecewa dan menghadapi kekecewaan, kita harus maju, hidup terus berlanjut apapun yang terjadi. Dan selama itu, masalah bakalan terus dateng tanpa henti. I said this not because i'm perfect. Aku juga lagi mengalami kekalahan. I feel it, and try to face it. Because it was the reality, i can't change it. One thing i only can do is.... sabar and ikhlas..... So FIGHTING all!! Allah pasti udah nyiapin yang lebih baik buat kita, kapanpun itu, to be patient :D