Showing posts with label myself. Show all posts
Showing posts with label myself. Show all posts

Sunday, August 7, 2016

Prolog-Light in Helsinki

Salju turun tanpa henti dari langit mendung kota ini. Gadis itu lagi-lagi memilih duduk di pojokan perpustakaan. Membuka buku usang sambil menikmati pemandangan kota melalui kaca besar di depannya.
Masih sama.
Suasana dan pemandangan yang ia lihat di depannya masih sama seperti tahun lalu. Saat ia bisa dengan bebas mengekspresikan dirinya di depan orang itu. Saat-saat ketika ia menikmati harinya beserta senyum orang di sekitarnya. Saat-saat ia merasakan kebahagiaan sesungguhnya.
Orang bilang kehidupan berputar. Kadang di atas dan kadang di bawah. Ketika kau sudah terlalu lama berada di bawah, momen ketika kau berada di atas sangatlah berarti-walau hanya sekejap saja. Sesungguhnya ia lebih merindukan orang yang menemaninya selama momen itu dibanding momen itu sendiri. Karena orang itulah tercipta momen yang membuatnya merasa berada diatas angin. Namun sayang, orang itu pergi terlalu cepat.
Ia tahu orang itu pergi karena ingin memperbaiki segalanya. Namun entah mengapa, ia merasa semua yang pernah mereka jalani bersama sungguh fana. Dan janji yang pernah orang itu ucapkan bagai buih di dermaga.

Yang bisa hilang kapan saja. 

Tuesday, January 19, 2016

Jus Cranberry

“Jus cranberry-nya satu ya bi.” pintaku sesampainya aku di rumah Daniel.
“Siap neng.” jawab Bi Sukma sambil mengacungkan dua jempolnya. Aku membalasnya dengan kedua jempolku,  menyemangatinya.
Angin berhembus pelan melewati leherku yang telanjang. Rambutku sesekali beterbangan dibuatnya. Udara sejuk disini memang selalu jadi nomor satu. Udara yang bersih dan bebas polusi sungguh adalah udara tersehat yang pernah kurasakan. Bukan hanya udaranya yang sejuk, suasana dan pemandangan yang disuguhkan villa Daniel ini turut berkontribusi menjadikannya tempat favorit liburan semesterku.
“Dikasih hati minta jantung.” suara berat khas cowok yang sangat kukenal terdengar dari belakangku. Aku tertawa menanggapi gurauannya. Dengan cepat Daniel berjalan dan duduk di depanku.
“Apanya yang hati apanya yang jantung, sih?” tanyaku setelah dia duduk.
“Itu elo, udah mohon-mohon diajakin liburan disini, minta minuman yang mahal lagi.” jawab Daniel ketus sambil melayangkan pandangannya ke perkebunan teh di depan villa.
“Lo salah Dan, gue ga mohon-mohon diajakin kesini kok. Bukannya elo ya yang kaya gitu?” balasku tidak mau kalah. Daniel langsung melihatku dan menaikkan kepalanya “Ini villa gue, remember?” ujarnya, lalu dia menghembuskan napas. “Ah udahlah, gimanapun elo selalu punya cara buat bisa liburan disini. Udah gapenting lagi ‘kenapa bisanya’.” lanjutnya sambil meraih kepalaku dan mengacak-acak rambutku. Jantungku seketika berhenti berdetak.
Daniel tertawa. Tawa yang mengunci mataku untuk terus menatap wajah manly-nya. Tawa yang dapat menggetarkan dadaku, dan tawa yang dapat membuatku tak sadar bahwa aku juga sedang ikut tertawa. Ya, tawa itu. Tawa yang selalu berhasil menyihirku. Seketika aku terdiam karena mengingat sesuatu, lalu tersenyum pada Daniel.
“Kenapa senyum?” tanya Daniel yang sadar aku tersenyum padanya. Aku menaikkan alisku lalu berdecak padanya, kutolehkan kepalaku kesamping, “Makasih bi, jusnya.” ujarku. Bi Sukma menaikkan alisnya tanda mengerti. “Iya neng, sama-sama. Ini jusnya ga dikasih gula sama sekali sesuai permintaan eneng kaya biasa.” ujarnya.
“Ah, bibi emang bibi paling peka deh di dunia.” tambahku memujinya. Bi Sukma hanya bersungut-sungut senang sambil memberikan jus anggur untuk Daniel. “Udah ya den, neng, bibi kebelakang lagi, kalo perlu bantuan bibi lagi bilang aja nanti.” ujarnya sambil lalu. Aku langsung menyeruput jus favoritku itu dan mendesah bahagia setelah meminumnya. “Ini emang minuman paling enak sedunia.”
“Apasih enaknya? Asem gitu juga.” sinis Daniel.
“Dan, napa sih lo sinis banget sama gue hari ini? Pms ya lo?”
Daniel menghembuskan napas berat , “Gue lagi bete mel. Biasa, pmsnya cowo.”
Aku mengerutkan kening tidak mengerti, seketika aku menyadari sesuatu, “Jangan-jangan lo putus lagi, ya?” ujarku pelan. Daniel mengangguk kesal. Sesuatu melegakan hatiku. Anggaplah aku jahat, karena selalu senang setiap Daniel putus dengan pacar-pacarnya. Tanpa kusadari sebelah bibirku sudah terangkat.
“Napa lo senyum gitu? Ngehina gue ya yang gabisa pacaran lebih dari sebulan?” tanyanya. Ketika sadar dengan senyum sinisku,  aku langsung mengalihkan pandanganku darinya dan tertawa. Lega.... lega rasnya. “Gue tau lo bukan playboy, tapi kenapa ya?” tanyaku berpura-pura simpati. Daniel berdecak kesal, “Sama aja lo ngatain gue playboy, kucrut!”
“Idih, pede banget sih lo! Segitu pengennya dicap playboy ya?” sulutku. Daniel menekuk wajahnya lagi.
“Gue ga ngerti lagi mel, semua cewe yang gue pacarin kok ya gapernah ada yang bisa bertahan sama gue. Padahal gue ga neko-neko juga pacaran ama merekanya. Lama-lama jadi homo deh gue.” Aku langsung melempar majalah yang ada di tanganku ke kepala Daniel. “Amit-amit niel lo jadi homo. Ngomong dipikir dulu napa.” gerutuku. “Lagian....” keluhnya.
“Sebenernya ya niel menurut gue, masalah tuh bukan di elonya.” selaku dengan suara meyakinkan. “Tapi ada di cewek-cewek itu. Selama ini, cewek yang pacaran sama elo tipenya gitu semua sih, not a lovely girl at all. Too much asking. Something you really hated of.” jujurku. Daniel mengangguk-angguk mengiyakan. “Tapi bingungnya gue, kok elo jadiannya sama yang gitu-gitu semua. Gak kapok apa gimana gue juga gangerti.” tambahku sambil menaikkan bahu.
“Terus gue harus sama cewe kaya gimana dong? Pas awal-awal kan gue gatau mereka tipe cewe begitu.” ujar Daniel membela diri. Aku tersenyum setengah tertawa mendengarnya sambil meraih jusku. Sekarang Daniel terdengar seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainannya. Bukan Daniel banget nih ngerengekin masalah kaya gini.
“Kayak elo?” celetuk Daniel. UHUK!! Aku terbatuk. Apa katanya? Cewek...... sepertiku? Apanya yang cewek sepertiku? Daniel ngeledek ya? Aku mengangkat wajahku, menatapnya, menunggu lanjutan kata-katanya.
Daniel menangkap tatapanku lalu melanjutkan, “Ah, mana bisa kaya elo, yang ada hidup gue malah ga tenang.” lalu dengan cepat Daniel mengalihkan pandangan ke arah yang berlawanan dengan wajahku. Aku menghembuskan napas lega mendengarnya. Lega karena jantungku tidak akan berusaha untuk melompat keluar saking cepatnya berdetak. Setelah detak jantungku yang berpacu cepat berangsur-angsur melambat, aku menghembuskan napas lagi. Sial. Suatu rasa yang sangat kuat menempel di tenggorokanku. Untuk pertama kalinya, jus cranberry favoritku, rasanya menjadi sangat asam dan memuakkan.
--

Friday, September 25, 2015

Dian

 Debu dan asap hasil pembakaran kendaraan bertebaran dimana-mana. Angin sepoi-sepoi yang seharusnya menyejukkan malah menyesakkan dada. Kupercepat tanganku untuk mencari benda itu, benda yang dapat menyelamatkanku dari kesesakkan ini dan dengan cepat menggunakannya sehingga menutupi sebagian wajahku.
Aku berjalan dengan mantap memasuki pintu bangunan ini, dengan cepat menuju bagian belakang dan menunggu keretaku. Puluhan orang berdesak-desakan membawa box-box dan tas besar mereka. Beberapa berebut tempat duduk yang sudah penuh. Tak hanya pemandangan itu, teriakan penjual asongan sayup-sayup juga menyapa telingaku, “Air pak!” “Gorengannya bu.” “Yak risolnya-risolnya-risolnya cuma 2000.” Pemandangan yang begitu padat dan menyesakkan. Aku memang sudah terbiasa kesini setiap hari libur menyapa, untuk kembali ke kampung halamanku, akan tetapi ini pertama kalinya aku melihat pemandangan sepadat ini.
Tiba-tiba seseorang menarik bagian bawah bajuku, aku menoleh. Pandangan tegasku seketika melembut, “Kak, tisunya satu kak, cuma 3000.” ujar anak kecil didepanku pelan. Rambutnya keriting, bajunya lusuh, tingginya sekitar pinggulku, ia menggendong sebuah keranjang yang lebih besar dari lebar tubuhnya yang berisi tisu. Beberapa kali ia terbatuk.
Angin sepoi-sepoi memainkan rambut ikal anak itu yang membuatnya sesekali menggaruk kepala. Aku menunduk untuk mendekat padanya, “Mau tisunya, kak?” tanyanya, ketika mendekat kusadari bibirnya pucat pasi. Mataku dengan cepat melirik pada tisu dikeranjangnya dan mengangguk mantap.
“Mau berapa kak?” tanyanya tanpa ekspresi apapun yang kuartikan sebagai ekspresi lelahnya. Matanya yang bening dan polos menatapku, menancapkan sebuah pisau ke ulu hatiku, anak sekecil ini…
“Adek namanya siapa?” tanyaku mengalihkan pertanyaan anak polos ini.
“Dian, kak.” jawabnya singkat.
“Sekolah nggak? Kelas berapa?” tanyaku lagi.
Tiba-tiba Dian tersenyum dan bersemangat, “Sekarang aku masih belum sekolah, kak. Tapi kata mama tahun depan aku boleh masuk SD.” Ia terbatuk lagi ditengah antusiasme dan senyumnya yang tiba-tiba membuat mataku panas.
“Dian pengen banget sekolah, ya? Kenapa?” tanyaku penasaran dengan keantusiasannya.
“Iya kak, soalnya kalo sekolah banyak temen, terus pake baju bagus. Makanya Dian bantu mama cari uang biar bisa sekolah tahun depan.” ujarnya penuh energi yang kutaktahu ia dapatkan darimana. Wajahnya yang sedikit pucat, rambutnya yang lucu dan senyumannya yang manis membuat Dian terlihat energik di sore yang sesak ini.
“Oia, kakak jadinya mau beli berapa tisu?” tanyanya. Tanganku dengan cepat membentuk angka sepuluh, dengan cerdik iapun memisahkan satu tisu untuk satu jariku, maklum ia belum bisa berhitung, dan setelah ia selesai memisahkan sepuluh tisu, matanya membelalak, “Sebanyak ini kak?”tanyanya. Aku mengangguk cepat. “Yeaaay!!!!!” teriaknya spontan yang berhasil membuatku ikut bersemangat.
Ia memasukkan kesepuluh tisu itu kedalam keresek lalu memberikannya padaku, terlihat wajahnya yang lega karena berat keranjang yang dibawanya sudah banyak berkurang. Aku mengambil keresek itu dari tangannya, “Dian, ini uang buat bayar tisunya,” ujarku sambil memberikan 30 ribu ketangannya. “Dan ini uang buat Dian sekolah.” bisikku sambil menyelipkan uang kedalam tas kecil yang dibawanya, kepalanya yang mungil mengikuti pergerakan tanganku. “Dan ini….” ujarku sambil mengeluarkan sebuah roti dan lima butir permen dari dalam tas dan memberikannya pada Dian. Wajahnya biasa saja saat melihat roti tapi langsung berbinar ketika melihat permen. Ia mengambil permen-permen itu dengan semangat dari tanganku tanpa sedikitpun menyentuh rotinya.
“Loh, nggak mau rotinya?”
“Dian diajarin buat nggak jadi peminta-minta sama mama.” jawabnya murung, seketika aku bingung, lalu kenapa ia menerima uang dan permenku dengan polos sebelumnya?
“Aku suka liat bapak-bapak dipinggir jalan dikasih roti.” tambahnya, spontan aku tersenyum. Jawabannya yang lugu menunjukkan betapa polosnya ia, betapa tidak mengertinya ia dengan hidup yang ia jalani, dan betapa kejamnya dunia pada anak sekecil Dian. Tanpa sadar aku memeluknya. Sambil memeluknya, aku berbisik, “Kalo kamu nggak mau dianggap sebagai peminta-minta, kamu beli rotinya dari kakak aja gimana?” Dian langsung melepaskan pelukanku, “Aku kan nggak punya uang kak.”
“Nggak usah pake uang, kok.” jawabku, “Pake apa kak?” tanyanya polos sambil menegakkan kepalanya untuk menatapku. Mata polosnya menusuk mataku dan membuatku mati-matian menahan cairan yang mendesak mataku, “Senyum.” Secepat kilat, ia mengangguk dan tersenyum kepadaku. Kuselipkan roti itu diantara tumpukan tisunya.
Tiba-tiba Dian menolehkan kepalanya dariku, beberapa meter disebelah kananku, berkumpul segerombol anak kecil lain yang membawa keranjang yang sama seperti Dian, beberapa diantara mereka memanggil Dian dengan lantang dan menyuruhnya untuk bergegas. Sebelum pergi, aku memegang tangan kecil Dian, “Dian…. Jangan lupa rotinya dimakan, ya. Jangan suka main jauh-jauh dari mama, sama kalo nanti udah sekolah yang rajin belajarnya ya.” Dian hanya mengangguk dan dengan tiba-tiba ia mencium pipiku, “Makasih kakak baik.” ujarnya sebelum ia berlari kearah teman-temannya dengan ceria tanpa sekalipun menoleh padaku lagi.
Selagi Dian berlarian dengan temannya, aku ditinggal sendiri disini, terdiam membisu. Aku hanya bisa menatap punggung-punggung itu menjauh dengan kaki-kaki kecilnya. Dihari yang penuh sesak dengan segala kepadatan yang ada, mereka masih bisa berlari, berjuang mencari uang, demi menggapai impian kecil mereka, bersekolah. Air mata yang sedari tadi kutahan menetes, Ya Tuhan, maka nikmat dari-Mu yang mana lagikah yang aku dustakan?

Friday, March 20, 2015

LDR (Love in Different Religion)

      “Siapa namanya?” tanyaku sambil bersiap menuliskan namanya dideretan penampil.
“Andre.”jawabnya seraya tersenyum. Aku terpaku.
     “La, hei!!” panggil Riri keras sambil memukul kepalaku. Aku sedikit oleng lalu menatap mata Riri ganas. “Apasih?” jawabku.
     “Kenapa putus?” tanyanya to the point. Ah… ya tadi aku sedang bercerita bahwa aku sudah putus dengan pacarku.
     Aku memutar bola mataku sebagai jawaban bagi Riri. “Bosen Ri ceritainnya lagi, kan kemaren udah lewat line.”
     “Lewat line itu bukan cerita… ngga ada feelnya sama sekali. Cerita ulang!” bawelnya. Ck… dasar Riri, selalu minta cerita ulang, ngga pernah deh dia anggep orang curhat kalo lewat line. Riri mulai menghujaniku dengan ribuan alasan kenapa dia ingin mendengar ceritaku secara langsung. Selama itu pula, aku tidak mendengarkannya. Semua yang dia bicarakan pasti seputar pentingnya interaksi langsung, rasa simpati dan hal lainnya yang sudah biasa kudengar. Selagi Riri sibuk menjelaskan alasannya, aku sibuk senyum-senyum sendiri. Hanya karena potongan kejadian yang dapat membuat hatiku bergetar.
--
     “Loh jadi kalian sekosan?” tanyaku bingung dengan cerita ketiga pria di depanku yang saling sambung menyambung.
     “Loh, iya La, kami sekosan, kamu ngga tau?” jawab orang yang berdiri tepat disebelah kananku.
     “Yaiyalah ngga tau, ngapain coba dia kepoin kamu, kurang kerjaan amat ya La?” timpal pria lain yang berdiri selangkah didepanku. Aku hanya tertawa menanggapi pertanyaannya.
     “Kamu kali itumah, Wan. Kalo aku, kamu pasti seneng kepoin,ya kan?” Tanya orang disebelah kananku. Mataku membesar tidak setuju, “Pedeeeeee.” jawabku sambil memukul bahunya keras. Dia hanya tertawa. Tawa menular yang membuatku otomatis ikut tertawa dengannya.
     “Eh, udahlah kalian jangan kepedean semua gitu. Mending kita main kembang api aja, mana tadi kembang apinya?” Tanya Titan, pria satunya. Tiba-tiba semuanya terdiam.
     “AH IYA! Ketinggalan di bawah.” Spontan semua melihat kearah suara dan berteriak, “DREEEEEE!!" Yang diteriaki berbalik dan langsung berlari kearah berlawanan. Irwan dan Titan mengikuti Andre berlari dari belakang dengan semangat. Seolah-olah mereka adalah polisi yang akan menangkap tersangkanya. Selagi mereka berlari, aku hanya bisa tertawa memerhatikan kelucuan ketiga orang itu. Trio yang akhir-akhir ini selalu ada di dekatku dan menghiburku. Dan kebetulan-hanya kebetulan saja kukira-salah satunya adalah tipeku. Tawanya, senyumnya, humornya, hampir semuanya. Orang dengan mata sipit dan senyum manis yang bisa membuatku lupa akan dunia.
--
     “La, ceritain dong tentang doi.” pinta Tia. Aku hanya senyum-senyum sendiri mendengarnya. Bayanganku kembali pada kenangan beberapa malam yang lalu, ketika aku menjadi panitia acara, ketika rapat, ketika aku melihat senyumnya, semuanya.
     Aku sungguh menikmati semua potongan kejadian itu, especially karena dia selalu ada di setiap bayangan yang terlintas di benakku. Dia menarik, dan lucu. Aku senang karena dia selalu ikut tertawa ketika aku tertawa, berjalan ketika aku berjalan, ikut pulang ketika aku pulang. Dia bahkan selalu menanggapiku dengan senyum yang lebar. Ah ya….. dan humornya yang bisa membuatku melupakan masalahku saat itu. Ya, dia. Doi yang Tia tanyakan. Orang yang ‘sepertinya’ sudah menyelamatkanku dari sakit hati pasca putus.
      “Jadi…” bisikku pada Tia.
     “Apa? Apa?” Tanya Tia antusias, Sita datang dan langsung heboh berebut mendengarkan dengan Tia. “Siapa La? Siapa?” Tanya Sita merusuh.
     “Yaaaah Si, kamu mah tau orangnya.” ujarku hampir tidak jadi bercerita. Spontan mata Sita membesar, antusiasnya naik hingga dia bahkan pindah untuk duduk disebelahku. Kedua sahabatku itu terus memohon agar aku menceritakan orang yang berhasil membuatku tersenyum kembali. Akhirnya akupun mengerling pada mereka dan mereka berteriak bahagia. “Jadi……….”
--
     Aku yakin aku tidak memendamnya. Apapun itu namanya, aku mengakui bahwa aku merasakannya. Senyum yang tiba-tiba mengembang ketika dia datang. Kupu-kupu yang beterbangan ketika dia tersenyum. Bahkan terkadang aku menghitung mundur ketika dia beberapa langkah lagi sampai di dekatku. Bodoh? Ya. Tapi entah mengapa aku tidak merasa bodoh saat melakukannya. Entah ini perasaan apa, aku sama sekali tidak mengetahuinya. Yang kutahu, aku nyaman berada di dekatnya. Yang kutahu, mungkin aku jatuh cinta padanya.
      “Hei, La! Ngapain?” Tanya Andre dari jauh seraya mendekatiku.
   “Bengong ajanih dre, gatau mau ngapain.” jawabku sekenanya. Andre tertawa lalu duduk disebelahku. Kamipun larut dalam obrolan-apapun-itu yang biasa kami lakukan setiap kami bertemu. Aku bercerita apa saja, dan diapun begitu. Hingga pada satu titik aku menyadari sesuatu, “Dre, kamu belum dapet jaketnya ya?”
     Andre melihat dirinya sendiri, lalu melihatku dengan iri. “Iyanih, aku belom dapet. Ngga ada yang bisa dipinjem lagi soalnya.” jawabnya lesu. Kami baru saja dilantik. Adatnya, jika dilantik maka kami harus meminjam jaket dari kating,sebagai bukti bahwa kami sudah dilantik. 
   “Mau coba?” tawarku. Matanya yang sayu langsung melebar dan senyumnya mengembang, Dengan cepat dia mengambil jaket yangada pada tanganku. Aku tersenyum melihatnya. Andre memakainya. Dia terlihat nyaman menggunakan jaketku. Aku membiarkannya menikmati perasaan pertamanya menggunakan jaket sakral kami. Selagi dia ‘menikmati’ waktunya, aku mengobrol dengan Sita. Sita mengerling padaku saat sadar aku meminjamkan jaket pada Andre. Aku hanya mengangkat bahu, seolah berkata itu tidak masalah.
     Tiba-tiba sesuatu jatuh dikepalaku, menutupi sebagian wajahku. Seseorang yang meletakannya dari belakang diam-diam mengelus kepalaku. Sita tiba-tiba heboh didepanku dengan mulut tertutup dan mata yang melotot. Aku meleleh ketika sadar apa yang ada diatas kepalaku. Jaketku. Jaket yang kupinjamkan pada Andre. “Makasih ya La.” ujarnya. Aku tidak bisa merespon apa-apa kecuali mengangkat kedua jempolku keatas. Rasanya sesuatu telah merenggut suaraku.
     Aku terdiam di tempat beberapa saat ketika Sita mulai membuka suaranya dan mengguncang-guncangkan aku, “La….. La…..” bisiknya padaku. Aku yang masih terkejut dengan kejadian barusan hanya bisa mengangguk dengan mata bingung pada Sita. Perutku bergolak dan sesuatu menari-nari di depanku. Sita yang sadar akan ketidakwarasanku langsung menarikku ke kamar.
     Dikamar, Sita menepuk pipiku dan menanyakan kesadaranku. Aku yang sepertinya baru saja sadar akan apa yang terjadi, langsung meloncat gembira. Aku berteriak-teriak seperti orang gila. Ya Tuhan, apa yang barusan terjadi padaku? Rasanya perutku semakin geli dan senyumku tidak dapat berhenti mengembang.
--
     Aku menyukainya. Ya benar. Senyumnya yang manis dan pembawaannya yang hangat selalu kurindukan. Ia bagaikan mentari yang datang setelah kelamnya malam. Angin yang berhembus ditengah panjangnya gurun. Aku bersyukur betapa aku dipertemukan dengannya tepat setelah aku putus. Dia yang menjauhkanku dari hal tidak berguna yang mungkin saja melandaku.
     Seketika aku terdiam. Tidak bisa. Aku harus berhenti dengan perasaan ini. Dia memang baik. Mungkin terlalu baik bagi jiwaku yang rapuh dan sedang kosong ini. Kebaikan kecil yang dia lakukan saja bisa membuatku terbang entah ke langit ketujuh. Tapi aku tidak boleh seperti ini. Terkadang seseorang dipertemukan dengan orang lain, hanya sekedar untuk saling bertemu saja, bukan bersatu. Aku tidak boleh memupuk perasaan ini lebih dalam lagi.
     Aku membuka daftar nama line dan mencari namanya. Andreas. The fact is: he isn't in the same religion with me. And he is from Sumatra. Sebenarnya, aku meragukan ini. Masa orang yang ‘katanya’ memiliki kepribadian keras bisa jadi sangat hangat dan semenyenangkan itu? Aku tersenyum kecil, tuhkan aku mulai membelanya lagi. Aku tahu aku tidak boleh melanjutkan perasaan ini ketingkat yang lebih tinggi. Tapi untuk ‘sekedar’ teman, menyukai itu boleh saja kan?
     Wahai hati, bisakah kau sedikit lebih dewasa menghadapi perasaan ini? Mungkin kini Allah sedang menguji ketaqwaanmu. Jadi, jangan sampai kalah. Tetaplah berpegang teguh pada kepercayaan dan Nabimu. Dia hanyalah angin, anggap saja begitu. Meskipun mungkin rasanya sakit, percayalah bahwa itu bukan yang tersakit. Jadi bertahanlah. Suatu saat nanti, kau pasti akan bertemu dengan hati lainnya, dimana selama ini pemiliknya selalu memasukkan namamu dalam doanya.
     Ya Allah, terimakasih karena telah Kau tunjukkan padaku ciptaanMu yang sesuai dengan keinginanku, yang dengan mudahnya memasuki hatiku, dan menuliskan namanya di dasar hatiku. Dan aku juga berterimakasih karena telah Kau tunjukkan kenyataannya. Bahwa aku tak mungkin memilikinya. Cukuplah bagiku mengetahui bahwa ada orang seperti dia di bumi ini, menghirup oksigen yang sama denganku dan melihat bintang yang sama denganku. Yah, cukup bagiku.

Monday, July 14, 2014

Here is my family!

And today I wanna share some photos of L3 Queen!, my family. L3 Queen consist of me and my sister :D We used name 'L3' because the name of three of us started with word 'L'. Lulu Nur Afifah (me), Laila Nur Fadhillah (she is 3rd grade in SMPIT Al Husna now), then my little sista, Luthfia Nur Karimah (she is 1st grade in SDIT Ainul Hayat). I wanna to introduction them :)
Here is us! L3 Queen ({})
This is me :D Lulu Nur Afifah :)

This is Laila Nur Fadhilah :)

And this is the last, my little sister :D Luthfia Nur Karimah

Saturday, April 13, 2013

The Tips!

           By the way, we are young and still be a student, so se-gaul dan se-famous apapun kita, kita tetep punya tanggung jawab sama orang tua kita tentang nilai kita. And, kebanyakan orang bingung sama metode belajarnya sendiri, jadi masih suka salah metode dan bingung buat konsentrasi. And that is the problem. So I'm searching about that and post it here now. So guys, lets find out the tips here!

Tips cara meningkatkan konsentrasi belajar (from Marthinz) :

1.      Hilangkan Beban dan Tugas-Tugas
If you have a homework, sebaiknya diselesaikan dulu agar tidak kepikiran terus-menerus pd saat kegiatan belajar berlangsung. Make priority thing to do dan jangan males!
2.      Think about The Future
Untuk menyemangati kegiatan belajar kita harus sedikit berandai-andai, yakni kalau kita sudah besar nanti akan sukses jadi org pandai, penghasilan besar, punya pacar cakep, dll. Dengan demikian maka kita akan menjadi lebih terpacu untuk meraih masa depan yang kita cita-citakan
3.      Jangan Terlalu Capek
Usahakan tidak membuat jadwal belajar dgn aktivitas fisik berlebih seperti olahraga, main seharian, jalan-jalan ke mall, dan lainnya. Kalau sudah terlanjur capek maka bljr sebentarpun sudah bisa membuat ngantuk. Bila pulang sekolah sebaiknya langsung tidur siang atau sore lalu stlh bangun tidur langsung belajar yg serius. Olahraga boleh, harus malah tapi jangan kelewatan. Keep healthy :D Kesehatan itu mahal loohhh :)
4.      Posisi Belajar Yang Pas
Belajar jangan dengan posisi tubuh yang salah seperti sambil tiduran, sambil jalan-jalan, sambil nonton tv, sambil ngobrol, sambil jongkok, dan lain sebagainya. Belajarlah dengan posisi duduk di meja belajar jika ada atau di meja dan kursi yang membuat kita senyaman di meja kursi sekolah atau kampus. Try it ya!
5.      Tempat yang tenang dan nyaman
Hindari lokasi belajar yg berisik/mudah menghilangkan konsentrasi belajar kita. Bila perlu menyendirilah anda di kamar tanpa suara apapun. Beritahu orang-orang di sekitar anda kalau anda sedang belajar dan mohon untuk tidak diganggu terlebih dahulu.
 6.      Cari Tahu Metode Belajar Yang Tepat
Coba saja aktivitas tertentu yang menurut kamu dapat menunjang masuknya materi pelajaran ke dalam otak. misal sambil mendengarkan musik, sambil menyanyi, sambil keliling-keliling, sambil corat-coret kertas. Or.... thinking about the nature, maybe?
7.      Strategi Menghapal Materi Pelajaran
Jika punya kesulitan menghapal/memahami pelajaran maka sebaiknya membuat rangkuman pelajaran yang mudah dimengerti dan dpt dilihat/dibaca-baca kembali jika ada yang lupa. Bisa juga membuat hubungan gmbr-gmbr yg mewakili point-poin pelajaran. Bisa juga merekam suara kita saat membaca materi pelajaran utk didengar kembali. Bisa pula membuat pertanyaan-pertanyaan tertentu yang atas materi yg telah dipelajari, dan lainnya.
8.      Istirahat / Break Jika Lelah
Jangan dipaksakan tubuh yang lelah untuk terus belajar karena tidak ada gunanya. Percuma bila dipaksakan pun bisa-bisa menjadi sakit seperti pusing, vertigo, demam, badan lemas, masuk angin, dan lain-lain. Pelajaran yang sudah dihapal pun mungkin saja bisa
9.      Lupakan Sejenak Masalah Cinta dan Pacar
Lebih baik jangan pacaran dulu kalau belum punya pacar atau buat kesepakatan sama pacar buat janji saling setia dan saling mendukung dalam kegiatan belajar mengajar.
            So, that it all. Gimana guys? Tertarik buat mencoba? Then, one last from me, you have to believe in your capability. Believe you can and never forget to pray to our God, Allah SWT. So, this is it, hopefully ini bisa bantu, ya...... Oh, yaa... fighting yaa :D I believe you can :) With love, Your Saturn :D

Sunday, April 7, 2013

Success?

"Jalan sukses itu ga cuma satu." thanks to said that, Mom and you. It is really push me up. I will never give up. You both are my energy :) Thank you. 
Oke, roda kehidupan itu berputar. Ga pernah engga. Allah juga udah pasti nentuin rizki dan bagian dari masing-masing orang. Jadi gausah terlalu kecewa dan menyesali sesuatu yangudah ga mungkin di rubah lagi. Life must go on. Kita gabisa terus-terusan mandang ke belakang dan stuck disitu. So, fighting! Buat semua orang yang lagi kecewa dan menghadapi kekecewaan, kita harus maju, hidup terus berlanjut apapun yang terjadi. Dan selama itu, masalah bakalan terus dateng tanpa henti. I said this not because i'm perfect. Aku juga lagi mengalami kekalahan. I feel it, and try to face it. Because it was the reality, i can't change it. One thing i only can do is.... sabar and ikhlas..... So FIGHTING all!! Allah pasti udah nyiapin yang lebih baik buat kita, kapanpun itu, to be patient :D

Thursday, December 6, 2012

Ketika

Aku tahu ini tidak adil bagimu
Aku tahu ini juga tidak bisa dibilang nyata untukmu
Mungkin mimpi
Tapi bisa juga bukan
Sesuatu yang sulit diterima
Hal yang berat dipercaya
Aku tahu kau akan merasa tidak benar nantinya A
papun itu
Bagaimanapun itu
Namun meski kutahu ini salah
Aku tetap melakukannya
Dan tetap memertahankannya

Friday, November 23, 2012

For my lovely mom :)

Then i understand,i can't live without you
I can't because you all of my life
When i'm thinking that my life will be okay without you, i false
The real false
Because you are my everything in every minute time i have
You are anything
I can't doing anything without see you
I can't
love you
Still and always
I love you so much Mom :)

Thursday, May 3, 2012

Gone wild

   And then, i feel that now i am gonna wild. My feels, my activity and other. It's really gone wild then. I hope it's not as bad as i think. And i hope it's more good then. Oh, god -__- why i am feel like this? I don't know more than others, but i still think i am wild. Very wild. Like a lion in the forest. How wild i am? I always thinking that all thing is not important. Hmm,,, maybe, i was tired, then i am be a wild person -__- Yaaa.. maybe.