Friday, September 25, 2015

Dian

 Debu dan asap hasil pembakaran kendaraan bertebaran dimana-mana. Angin sepoi-sepoi yang seharusnya menyejukkan malah menyesakkan dada. Kupercepat tanganku untuk mencari benda itu, benda yang dapat menyelamatkanku dari kesesakkan ini dan dengan cepat menggunakannya sehingga menutupi sebagian wajahku.
Aku berjalan dengan mantap memasuki pintu bangunan ini, dengan cepat menuju bagian belakang dan menunggu keretaku. Puluhan orang berdesak-desakan membawa box-box dan tas besar mereka. Beberapa berebut tempat duduk yang sudah penuh. Tak hanya pemandangan itu, teriakan penjual asongan sayup-sayup juga menyapa telingaku, “Air pak!” “Gorengannya bu.” “Yak risolnya-risolnya-risolnya cuma 2000.” Pemandangan yang begitu padat dan menyesakkan. Aku memang sudah terbiasa kesini setiap hari libur menyapa, untuk kembali ke kampung halamanku, akan tetapi ini pertama kalinya aku melihat pemandangan sepadat ini.
Tiba-tiba seseorang menarik bagian bawah bajuku, aku menoleh. Pandangan tegasku seketika melembut, “Kak, tisunya satu kak, cuma 3000.” ujar anak kecil didepanku pelan. Rambutnya keriting, bajunya lusuh, tingginya sekitar pinggulku, ia menggendong sebuah keranjang yang lebih besar dari lebar tubuhnya yang berisi tisu. Beberapa kali ia terbatuk.
Angin sepoi-sepoi memainkan rambut ikal anak itu yang membuatnya sesekali menggaruk kepala. Aku menunduk untuk mendekat padanya, “Mau tisunya, kak?” tanyanya, ketika mendekat kusadari bibirnya pucat pasi. Mataku dengan cepat melirik pada tisu dikeranjangnya dan mengangguk mantap.
“Mau berapa kak?” tanyanya tanpa ekspresi apapun yang kuartikan sebagai ekspresi lelahnya. Matanya yang bening dan polos menatapku, menancapkan sebuah pisau ke ulu hatiku, anak sekecil ini…
“Adek namanya siapa?” tanyaku mengalihkan pertanyaan anak polos ini.
“Dian, kak.” jawabnya singkat.
“Sekolah nggak? Kelas berapa?” tanyaku lagi.
Tiba-tiba Dian tersenyum dan bersemangat, “Sekarang aku masih belum sekolah, kak. Tapi kata mama tahun depan aku boleh masuk SD.” Ia terbatuk lagi ditengah antusiasme dan senyumnya yang tiba-tiba membuat mataku panas.
“Dian pengen banget sekolah, ya? Kenapa?” tanyaku penasaran dengan keantusiasannya.
“Iya kak, soalnya kalo sekolah banyak temen, terus pake baju bagus. Makanya Dian bantu mama cari uang biar bisa sekolah tahun depan.” ujarnya penuh energi yang kutaktahu ia dapatkan darimana. Wajahnya yang sedikit pucat, rambutnya yang lucu dan senyumannya yang manis membuat Dian terlihat energik di sore yang sesak ini.
“Oia, kakak jadinya mau beli berapa tisu?” tanyanya. Tanganku dengan cepat membentuk angka sepuluh, dengan cerdik iapun memisahkan satu tisu untuk satu jariku, maklum ia belum bisa berhitung, dan setelah ia selesai memisahkan sepuluh tisu, matanya membelalak, “Sebanyak ini kak?”tanyanya. Aku mengangguk cepat. “Yeaaay!!!!!” teriaknya spontan yang berhasil membuatku ikut bersemangat.
Ia memasukkan kesepuluh tisu itu kedalam keresek lalu memberikannya padaku, terlihat wajahnya yang lega karena berat keranjang yang dibawanya sudah banyak berkurang. Aku mengambil keresek itu dari tangannya, “Dian, ini uang buat bayar tisunya,” ujarku sambil memberikan 30 ribu ketangannya. “Dan ini uang buat Dian sekolah.” bisikku sambil menyelipkan uang kedalam tas kecil yang dibawanya, kepalanya yang mungil mengikuti pergerakan tanganku. “Dan ini….” ujarku sambil mengeluarkan sebuah roti dan lima butir permen dari dalam tas dan memberikannya pada Dian. Wajahnya biasa saja saat melihat roti tapi langsung berbinar ketika melihat permen. Ia mengambil permen-permen itu dengan semangat dari tanganku tanpa sedikitpun menyentuh rotinya.
“Loh, nggak mau rotinya?”
“Dian diajarin buat nggak jadi peminta-minta sama mama.” jawabnya murung, seketika aku bingung, lalu kenapa ia menerima uang dan permenku dengan polos sebelumnya?
“Aku suka liat bapak-bapak dipinggir jalan dikasih roti.” tambahnya, spontan aku tersenyum. Jawabannya yang lugu menunjukkan betapa polosnya ia, betapa tidak mengertinya ia dengan hidup yang ia jalani, dan betapa kejamnya dunia pada anak sekecil Dian. Tanpa sadar aku memeluknya. Sambil memeluknya, aku berbisik, “Kalo kamu nggak mau dianggap sebagai peminta-minta, kamu beli rotinya dari kakak aja gimana?” Dian langsung melepaskan pelukanku, “Aku kan nggak punya uang kak.”
“Nggak usah pake uang, kok.” jawabku, “Pake apa kak?” tanyanya polos sambil menegakkan kepalanya untuk menatapku. Mata polosnya menusuk mataku dan membuatku mati-matian menahan cairan yang mendesak mataku, “Senyum.” Secepat kilat, ia mengangguk dan tersenyum kepadaku. Kuselipkan roti itu diantara tumpukan tisunya.
Tiba-tiba Dian menolehkan kepalanya dariku, beberapa meter disebelah kananku, berkumpul segerombol anak kecil lain yang membawa keranjang yang sama seperti Dian, beberapa diantara mereka memanggil Dian dengan lantang dan menyuruhnya untuk bergegas. Sebelum pergi, aku memegang tangan kecil Dian, “Dian…. Jangan lupa rotinya dimakan, ya. Jangan suka main jauh-jauh dari mama, sama kalo nanti udah sekolah yang rajin belajarnya ya.” Dian hanya mengangguk dan dengan tiba-tiba ia mencium pipiku, “Makasih kakak baik.” ujarnya sebelum ia berlari kearah teman-temannya dengan ceria tanpa sekalipun menoleh padaku lagi.
Selagi Dian berlarian dengan temannya, aku ditinggal sendiri disini, terdiam membisu. Aku hanya bisa menatap punggung-punggung itu menjauh dengan kaki-kaki kecilnya. Dihari yang penuh sesak dengan segala kepadatan yang ada, mereka masih bisa berlari, berjuang mencari uang, demi menggapai impian kecil mereka, bersekolah. Air mata yang sedari tadi kutahan menetes, Ya Tuhan, maka nikmat dari-Mu yang mana lagikah yang aku dustakan?

Friday, March 20, 2015

LDR (Love in Different Religion)

      “Siapa namanya?” tanyaku sambil bersiap menuliskan namanya dideretan penampil.
“Andre.”jawabnya seraya tersenyum. Aku terpaku.
     “La, hei!!” panggil Riri keras sambil memukul kepalaku. Aku sedikit oleng lalu menatap mata Riri ganas. “Apasih?” jawabku.
     “Kenapa putus?” tanyanya to the point. Ah… ya tadi aku sedang bercerita bahwa aku sudah putus dengan pacarku.
     Aku memutar bola mataku sebagai jawaban bagi Riri. “Bosen Ri ceritainnya lagi, kan kemaren udah lewat line.”
     “Lewat line itu bukan cerita… ngga ada feelnya sama sekali. Cerita ulang!” bawelnya. Ck… dasar Riri, selalu minta cerita ulang, ngga pernah deh dia anggep orang curhat kalo lewat line. Riri mulai menghujaniku dengan ribuan alasan kenapa dia ingin mendengar ceritaku secara langsung. Selama itu pula, aku tidak mendengarkannya. Semua yang dia bicarakan pasti seputar pentingnya interaksi langsung, rasa simpati dan hal lainnya yang sudah biasa kudengar. Selagi Riri sibuk menjelaskan alasannya, aku sibuk senyum-senyum sendiri. Hanya karena potongan kejadian yang dapat membuat hatiku bergetar.
--
     “Loh jadi kalian sekosan?” tanyaku bingung dengan cerita ketiga pria di depanku yang saling sambung menyambung.
     “Loh, iya La, kami sekosan, kamu ngga tau?” jawab orang yang berdiri tepat disebelah kananku.
     “Yaiyalah ngga tau, ngapain coba dia kepoin kamu, kurang kerjaan amat ya La?” timpal pria lain yang berdiri selangkah didepanku. Aku hanya tertawa menanggapi pertanyaannya.
     “Kamu kali itumah, Wan. Kalo aku, kamu pasti seneng kepoin,ya kan?” Tanya orang disebelah kananku. Mataku membesar tidak setuju, “Pedeeeeee.” jawabku sambil memukul bahunya keras. Dia hanya tertawa. Tawa menular yang membuatku otomatis ikut tertawa dengannya.
     “Eh, udahlah kalian jangan kepedean semua gitu. Mending kita main kembang api aja, mana tadi kembang apinya?” Tanya Titan, pria satunya. Tiba-tiba semuanya terdiam.
     “AH IYA! Ketinggalan di bawah.” Spontan semua melihat kearah suara dan berteriak, “DREEEEEE!!" Yang diteriaki berbalik dan langsung berlari kearah berlawanan. Irwan dan Titan mengikuti Andre berlari dari belakang dengan semangat. Seolah-olah mereka adalah polisi yang akan menangkap tersangkanya. Selagi mereka berlari, aku hanya bisa tertawa memerhatikan kelucuan ketiga orang itu. Trio yang akhir-akhir ini selalu ada di dekatku dan menghiburku. Dan kebetulan-hanya kebetulan saja kukira-salah satunya adalah tipeku. Tawanya, senyumnya, humornya, hampir semuanya. Orang dengan mata sipit dan senyum manis yang bisa membuatku lupa akan dunia.
--
     “La, ceritain dong tentang doi.” pinta Tia. Aku hanya senyum-senyum sendiri mendengarnya. Bayanganku kembali pada kenangan beberapa malam yang lalu, ketika aku menjadi panitia acara, ketika rapat, ketika aku melihat senyumnya, semuanya.
     Aku sungguh menikmati semua potongan kejadian itu, especially karena dia selalu ada di setiap bayangan yang terlintas di benakku. Dia menarik, dan lucu. Aku senang karena dia selalu ikut tertawa ketika aku tertawa, berjalan ketika aku berjalan, ikut pulang ketika aku pulang. Dia bahkan selalu menanggapiku dengan senyum yang lebar. Ah ya….. dan humornya yang bisa membuatku melupakan masalahku saat itu. Ya, dia. Doi yang Tia tanyakan. Orang yang ‘sepertinya’ sudah menyelamatkanku dari sakit hati pasca putus.
      “Jadi…” bisikku pada Tia.
     “Apa? Apa?” Tanya Tia antusias, Sita datang dan langsung heboh berebut mendengarkan dengan Tia. “Siapa La? Siapa?” Tanya Sita merusuh.
     “Yaaaah Si, kamu mah tau orangnya.” ujarku hampir tidak jadi bercerita. Spontan mata Sita membesar, antusiasnya naik hingga dia bahkan pindah untuk duduk disebelahku. Kedua sahabatku itu terus memohon agar aku menceritakan orang yang berhasil membuatku tersenyum kembali. Akhirnya akupun mengerling pada mereka dan mereka berteriak bahagia. “Jadi……….”
--
     Aku yakin aku tidak memendamnya. Apapun itu namanya, aku mengakui bahwa aku merasakannya. Senyum yang tiba-tiba mengembang ketika dia datang. Kupu-kupu yang beterbangan ketika dia tersenyum. Bahkan terkadang aku menghitung mundur ketika dia beberapa langkah lagi sampai di dekatku. Bodoh? Ya. Tapi entah mengapa aku tidak merasa bodoh saat melakukannya. Entah ini perasaan apa, aku sama sekali tidak mengetahuinya. Yang kutahu, aku nyaman berada di dekatnya. Yang kutahu, mungkin aku jatuh cinta padanya.
      “Hei, La! Ngapain?” Tanya Andre dari jauh seraya mendekatiku.
   “Bengong ajanih dre, gatau mau ngapain.” jawabku sekenanya. Andre tertawa lalu duduk disebelahku. Kamipun larut dalam obrolan-apapun-itu yang biasa kami lakukan setiap kami bertemu. Aku bercerita apa saja, dan diapun begitu. Hingga pada satu titik aku menyadari sesuatu, “Dre, kamu belum dapet jaketnya ya?”
     Andre melihat dirinya sendiri, lalu melihatku dengan iri. “Iyanih, aku belom dapet. Ngga ada yang bisa dipinjem lagi soalnya.” jawabnya lesu. Kami baru saja dilantik. Adatnya, jika dilantik maka kami harus meminjam jaket dari kating,sebagai bukti bahwa kami sudah dilantik. 
   “Mau coba?” tawarku. Matanya yang sayu langsung melebar dan senyumnya mengembang, Dengan cepat dia mengambil jaket yangada pada tanganku. Aku tersenyum melihatnya. Andre memakainya. Dia terlihat nyaman menggunakan jaketku. Aku membiarkannya menikmati perasaan pertamanya menggunakan jaket sakral kami. Selagi dia ‘menikmati’ waktunya, aku mengobrol dengan Sita. Sita mengerling padaku saat sadar aku meminjamkan jaket pada Andre. Aku hanya mengangkat bahu, seolah berkata itu tidak masalah.
     Tiba-tiba sesuatu jatuh dikepalaku, menutupi sebagian wajahku. Seseorang yang meletakannya dari belakang diam-diam mengelus kepalaku. Sita tiba-tiba heboh didepanku dengan mulut tertutup dan mata yang melotot. Aku meleleh ketika sadar apa yang ada diatas kepalaku. Jaketku. Jaket yang kupinjamkan pada Andre. “Makasih ya La.” ujarnya. Aku tidak bisa merespon apa-apa kecuali mengangkat kedua jempolku keatas. Rasanya sesuatu telah merenggut suaraku.
     Aku terdiam di tempat beberapa saat ketika Sita mulai membuka suaranya dan mengguncang-guncangkan aku, “La….. La…..” bisiknya padaku. Aku yang masih terkejut dengan kejadian barusan hanya bisa mengangguk dengan mata bingung pada Sita. Perutku bergolak dan sesuatu menari-nari di depanku. Sita yang sadar akan ketidakwarasanku langsung menarikku ke kamar.
     Dikamar, Sita menepuk pipiku dan menanyakan kesadaranku. Aku yang sepertinya baru saja sadar akan apa yang terjadi, langsung meloncat gembira. Aku berteriak-teriak seperti orang gila. Ya Tuhan, apa yang barusan terjadi padaku? Rasanya perutku semakin geli dan senyumku tidak dapat berhenti mengembang.
--
     Aku menyukainya. Ya benar. Senyumnya yang manis dan pembawaannya yang hangat selalu kurindukan. Ia bagaikan mentari yang datang setelah kelamnya malam. Angin yang berhembus ditengah panjangnya gurun. Aku bersyukur betapa aku dipertemukan dengannya tepat setelah aku putus. Dia yang menjauhkanku dari hal tidak berguna yang mungkin saja melandaku.
     Seketika aku terdiam. Tidak bisa. Aku harus berhenti dengan perasaan ini. Dia memang baik. Mungkin terlalu baik bagi jiwaku yang rapuh dan sedang kosong ini. Kebaikan kecil yang dia lakukan saja bisa membuatku terbang entah ke langit ketujuh. Tapi aku tidak boleh seperti ini. Terkadang seseorang dipertemukan dengan orang lain, hanya sekedar untuk saling bertemu saja, bukan bersatu. Aku tidak boleh memupuk perasaan ini lebih dalam lagi.
     Aku membuka daftar nama line dan mencari namanya. Andreas. The fact is: he isn't in the same religion with me. And he is from Sumatra. Sebenarnya, aku meragukan ini. Masa orang yang ‘katanya’ memiliki kepribadian keras bisa jadi sangat hangat dan semenyenangkan itu? Aku tersenyum kecil, tuhkan aku mulai membelanya lagi. Aku tahu aku tidak boleh melanjutkan perasaan ini ketingkat yang lebih tinggi. Tapi untuk ‘sekedar’ teman, menyukai itu boleh saja kan?
     Wahai hati, bisakah kau sedikit lebih dewasa menghadapi perasaan ini? Mungkin kini Allah sedang menguji ketaqwaanmu. Jadi, jangan sampai kalah. Tetaplah berpegang teguh pada kepercayaan dan Nabimu. Dia hanyalah angin, anggap saja begitu. Meskipun mungkin rasanya sakit, percayalah bahwa itu bukan yang tersakit. Jadi bertahanlah. Suatu saat nanti, kau pasti akan bertemu dengan hati lainnya, dimana selama ini pemiliknya selalu memasukkan namamu dalam doanya.
     Ya Allah, terimakasih karena telah Kau tunjukkan padaku ciptaanMu yang sesuai dengan keinginanku, yang dengan mudahnya memasuki hatiku, dan menuliskan namanya di dasar hatiku. Dan aku juga berterimakasih karena telah Kau tunjukkan kenyataannya. Bahwa aku tak mungkin memilikinya. Cukuplah bagiku mengetahui bahwa ada orang seperti dia di bumi ini, menghirup oksigen yang sama denganku dan melihat bintang yang sama denganku. Yah, cukup bagiku.

Saturday, October 25, 2014

My Novel!!


Ini seneng banget rasanya...... Setelah disibukkin sama ribuan tugas, stress, kegiatan, capek, dan segalanyaa... akhirnya dapet penyegaran dari berita ini >D ASlhamdulillah ya Allah makasih banget anugerahnya. Seneng banget denger novel ini terbiiit :) Kalo kalian mau beli novelnya boleh guys, murah kok, cuma Rp20.000 aja. Yang fantasi cinta 2 dimensi itu novel, tapi kalau yang Everything About Love itu Kumpulan Cerpen :)
Yo mangga kesini aja kalo mau beli: Fantasi Cinta 2 Dimensi : https://iframe.buqu.co/Details/bts214i0008/BITStore?id=bitread
Everything About Love: https://iframe.buqu.co/Details/bts214g0083/BITStore?id=bitread

Monday, July 14, 2014

Here is my family!

And today I wanna share some photos of L3 Queen!, my family. L3 Queen consist of me and my sister :D We used name 'L3' because the name of three of us started with word 'L'. Lulu Nur Afifah (me), Laila Nur Fadhillah (she is 3rd grade in SMPIT Al Husna now), then my little sista, Luthfia Nur Karimah (she is 1st grade in SDIT Ainul Hayat). I wanna to introduction them :)
Here is us! L3 Queen ({})
This is me :D Lulu Nur Afifah :)

This is Laila Nur Fadhilah :)

And this is the last, my little sister :D Luthfia Nur Karimah

My Drawing!

2 month ago, I try to draw something, for the cover of my and widya's novel, And here is the result. I never know I ca drawing like this :) And by the way I like this picture! Love this :*

Tuesday, April 8, 2014

Surat Untukmu



Aku merasa bebas denganmu
Ringan… Nyaman…. Aman…
Tak tahu mengapa….
Jika bersamamu, aku tidak takut lagi
Jika bersamamu, aku bahkan tidak malu
Jika bersamamu, apapun yang ada dalam fikirku hilang
Melayang bebas dalam anganku
Terbang…. Entah kemana…
Hanya karena ada kamu
           
Kulirik lagi bait demi bait puisi karyaku. Dadaku bergemuruh. Yakinkah aku akan mengirimu puisi ini? Ah, bukan puisi saja, melainkan seluruh isi suratnya. Aku ragu, Aku takut. Tapi, jika aku tidak mengirimkannya padamu, aku yakin aku sudah tidak bisa membendung perasaanku lagi padamu. Aaaaaaahh, kamu memang hobi membuatku frustasi, Kai.
Aku bergerak gusar sambil menggeser gitar yang menutupi sebagian kasurku. Aku menatap langit-langitnya dalam diam. Aku melamun. Ah, bahkan dalam lamunanku saja ada kamu. Aku ini memang sudah benar-benar gila.
            I’m a Barbie girl. In a Barbie world…..” nada dering ponselku berbunyi. Aku menggapainya cepat dan segera mengangkat teleponnya.
“Ya, halo?” sapaku pada seseorang entah siapa di seberang sana yang meneleponku, nomornya di-private.
“Kar, lo ada di rumah?” Tanya orang itu sendu.
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, “Anya?” tanyaku. Orang yang meneleponku hanya berdeham. Ya, berarti itu memang Anya. Untuk apa Anya menelepon? Tumben sekali, biasanya dia akan langsung datang ke rumahku tiba-tiba tanpa menelepon.
“Kar? Karin?” panggilnya lagi.
“Ya? Iya aku lagi di ruman An. Kenapa?” tanyaku bingung.
“Gue kesana yaaa.” ucapnya, tiba-tiba sambungan terputus. Aku mematung. Ada apasih sama Anya? Aneh banget deh.
Aku langsung mengganti bajuku sambil membereskan kamarku. Anya pasti akan langsung masuk ke kamarku tanpa diminta. Biasanya dia begitu.
Setengah jam kemudian seseorang membuka pintu kamarku. Anya. Rambut ikalnya menjuntai sebahu. Kakinya yang jenjang terlihat sangat cantik dengan dress selututnya. Anya memang selalu menawan. Tapi tidak sekarang. Matanya sembab dan basah. Anya berlari ke arahku dan langsung memelukku erat.
“Andi, Kar. Andi.” Bisiknya tepat di telingaku. Andi adalah pacar Anya sekarang. Ada apa dengan Andi?
“Andi kenapa An?” tanyaku sambil mengelus-elus pundaknya.
“Dia tahu kalau selama ini gue suka Ryan.” Jawabnya. Aku termenung. Berdeham. Sepertinya, memang sudah hukum alam bahwa bangkai yang dikubur dalam-dalam akan tercium juga baunya. Bahkan bangkai yang sangat Anya tata agar tidak ketahuan pun akhirnya terungkap juga.
Anya sudah lama menyukai Ryan. Tapi tidak pernah mengungkapkannya karena Anya pikir Ryan terlalu cuek padanya. Meskipun begitu Anya menyukainya bahkan dari sebelum Anya berpacaran dengan Andi. Namun, saat Andi yang datang pada Anya, Anya tidak bisa menolak. Ia terlalu baik hati. Akhirnya ia mengikhlaskan Ryan dan memilih untuk berpacaran dengan Andi. Andi jelas sangat senang. Tapi sekarang ketika Andi tahu kenyataannya, aku yakin ia tidak akan sebahagia biasanya.
“Terus, Andi sekarang gimana?” tanyaku.
Anya terbatuk sebentar sebelum menjawab. “Akhirnya dia minta putus.” Jawabnya. Aku mengangguk mengerti. Memang sudah seharusnya begitu, daripada Anya terus menerus membohonginya. “Tapi, Kar, bukannya lega, gue malah sedih dan ngerasa kehilangan.” Tambahnya.
“Wajarlah An. Kan biasanya kamu kontakan terus sama dia. Kamu setahun loh sama dia, jadi wajar kalo tiba-tiba ngerasa kehilangan kaya gini.” Ujarku sambil mengelus puncak kepalanya. Anya tetap tersedu.
Anya akhirnya bercerita tentang duduk permasalahannya hingga Andi tahu. Aku dengan setia mendengarkannya baik-baik. Lagipula aku bisa bernasihat apa? Pacaran saja tidak pernah. Aku hanya hobi menjadi seorang secret admirer.
Selama bersama Andi, Anya selalu bilang bahwa ia hanya mencoba untuk menghargai perasaan Andi terhadapnya. Ia penganut quote “Lebih baik bersama orang yang mencintai kita dari pada bersama orang yang kita cintai.” Maka dari itu ia menerima Andi untuk menjadi pacarnya. Ia selalu bilang bahwa ia menyayangi Andi layaknya seorang adik menyayangi kakaknya. Meskipun ia tidak pernah mengatakannya pada Andi.
Tapi lama-kelamaan, semakin sering Anya bercerita tentang Andi, aku semakin melihat suatu perbedaan. Anya tidak pernah sadar bahwa matanya tidak bisa berbohong. Setiap Anya bercerita tentang Andi sebagai kakaknya, aku selalu melihat hal yang berbeda di matanya. Bukan tatapan kagum yang Anya berikan untuk Andi. Melainkan tatapan memuja.
Setelah melihat yang terjadi pada Anya dan mendengar penuturan Anya tentang Andi hari ini, aku semakin yakin dengan perkiraanku selama ini. Anya memiliki gejala yang sama denganku. Gejala sama dengan yang kurasakan terhadap Kai. Anya jatuh cinta pada Andi.
Mungkin, karena itulah ia menyesal. Menyesal karena telah membohongi Andi juga karena pada akhirnya ia jatuh cinta juga pada lelaki itu. Mungkin, karena itu juga ia sekarang sangat rindu pada Andi. Mungkin, karena itu pulalah sekarang ia menangis. Bukan karena Ryan. Melainkan karena Andi.
“Jadi, sekarang kamu mau gimana nih An? Mau lepasin dia atau minta maaf sama dia dan jujur sama perasaan kamu ke dia?” tanyaku setelah tangis Anya reda. Anya hanya terdiam dan menghela napas.
“Gue bingung ya Kar. Terlebih gue takut Andi gamau maafin gue.” Jawabnya.
Aku tersenyum, “Kalo gitu, kamu mau jadi secret admirer juga kaya aku?” tanyaku jahil sambil mengedipkan mata. Anya langsung menggeleng.
“Ya gak maulah, lo kan ga punya nyali, makanya jadi secret admirer gitu.” Sanggahnya. Aku langsung tertawa dan meledeknya, “Jadi kamu punya nyali buat ngomong langsung?” Anya langsung sadar akan dampak dari ucapannya barusan. Aku lagi-lagi tertawa melihat wajah cemas Anya.
“Gue harus gimana dong Kar menurut lo?” tanyanya.
“Menurutku? Yang ga punya pengalaman pacaran sekalipun?” ujarku pura-pura kaget. Anya menimpukku dengan bantal.
“Yaiyalah, masa menurut boneka-boneka lo sih?” ujar Anya cemberut.
Aku menjawil pipinya sambil menjawab, “Kamu jujur ajalah An sama dia. Toh baru kemarin juga kejadiannya. Gamungkin dalem sehari dia langsung lupain kamu. Siapa tau dia ngarepin kamu minta maaf kan. Gausah gengsi-gengsian dulu deh An sekarang.”
Anya menatap mataku yang bulat sambil bergumam, “Apa gitu aja ya? Gue minta maaf ke rumahnya langsung atau telepon aja?”
“Apapun yang terjadi secara langsung itu selalu lebih enak dan jelas, An.” Bisik gue. Anya melirikku lalu tersenyum.
“Okedeh, gue langsung ke rumahnya aja kali ya. Ah! Berarti gue harus bawa sesuatu buat Tante Rini, siapa tahu ketemu.” Ujarnya dengan mata berbinar. Aku tersenyum, Tante Rini adalah mamanya Andi. Yah, Anya memang mudah memikat hati para orangtua juga sebenarnya.
Tiba-tiba saja Anya langsung meloncat dari kasurku. “Kalo gitu gue pulang dulu ya Kar, gue mau beli bingkisan dulu baru minta maaf sama Andi.” Aku membelalakkan mataku kaget. Hari ini juga?
“Sekarang juga, An?” tanyaku. Anya langsung mengangguk semangat, “Gue gamau masalah ini jadi ribet dulu. Thanks banget yaaa Karin sayaang buat masukannya. Niat gue sekarang bulet buat minta maaf sama Andi. Kedepannya yah gimana nanti aja.” Jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang selalu menulariku.
“Yaudah, sukses, ya. Sana pergi husss!” usirku. Anya tertawa. Tapi tiba-tiba mata Anya jadi serius dan ia mendekatiku.
“Kar.” Panggilnya. Aku hanya mengagkat alis menanggapinya. “Kuatin tekad lo juga ya Kar.” Ujarnya lalu berhenti. Aku bingung. Tekad buat apa? Aku diam menunggu lanjutan kata-katanya yang menggantung.
“Sebagai sahabat, gue pengen lo juga bahagia. Kejar orang yang lo suka Kar. Minimal lo kasihlah diri lo sendiri kesempatan buat ngungkapin perasaan lo. Gue ga pengen lo harus menyesal dulu kaya gue, Kar.” Ujarnya. Mataku membelalak kaget. Tidak biasanya Anya berbicara seperti ini.
“Jujur sama perasaan lo sendiri Kar. Dan jujurlah sama Kai tentang perasaan lo buat dia selama ini. Apapun hasilnya, at least lo mencoba. Raih cintamu, Kar!” Aku terbatuk. Anya menepuk pundakku berkali-kali sebelum pamit dan memelukku.
Sungguh aku tidak percaya Anya mengatakan hal yang selama bertahun-tahun ini kubuang jauh-jauh. Anya memintaku untuk berani. Berani merasakan apa yang kurasakan dan berani mengungkapkan yang kurasakan.
Jujur, aku senang. Itu artinya ada seseorang yang akan siap menerimaku jika aku gagal. Namun itu membuatku khawatir juga. Bagaimana jika aku gagal? Bagaimana jika aku hanya dianggap kampungan? Sial.
Aku merebahkan badanku dan memeluk boneka beruangku sambil melamun. Hei, aku benar-benar jatuh cinta sepertinya karena beberapa detik yang lalu aku rasa aku mendengar suara Kai memanggilku. “Karin… Karin…” panggilnya terus menerus. Aku bergeming. Ini mimpi? Tapi semakin lama suaranya semakin jelas di telingaku. Penasaran, aku meloncat dari kasur dan mengintip lewat jendela kamarku. Bola mataku membesar.
Ya, itu Kai. Dia ada disini. Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan? Spontan aku langsung berkaca di depan cermin dan merapihkan penampilanku. Haruskah aku menemuinya? Aku menepuk kepalaku. Yaiyalah, jika tidak aku, siapa lagi? Papa? Oh, jangan…
Aku bergegas keluar kamar. Beberapa saat kemudian aku kembali. Terngiang kata-kata Anya padaku, “Raih cintamu!” Ya, aku tidak ingin menyesal dulu seperti Anya baru bisa meraih kebahagiaanku. Aku memang harus mengungkapkan perasaanku, cepat atau lambat.
Akhirnya kutarik sebuah amplop merah dari bawah bantalku. Melihatnya untuk yang terakhir kalinya, dan berlari sekuat tenaga kebawah.
“Hai, Kai.” Sapaku sambil mengatur napasku yang berkejaran. Kai mengerutkan keningnya heran.
“Habis ngapain, sih?” Tanyanya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Dia hanya mengangkat alisnya ketika aku tidak menjawabnya. Dia tidak menodongku dengan banyak pertanyaan seperti biasanya. Aku bersyukur. Sesaat, suasana diantara aku dan Kai canggung.
“Oiya, mau ngapain kesini Kai?” tanyaku basa basi.
“Gapapa, pengen ketemu aja. Asalnya sih pengen ngajak main sepeda bareng, tapi karena kamu kayanya lagi kecapean, gajadi deh.” Kini aku yang mengangkat alisku. Dia mau apa katanya? Aku sampai tidak percaya pada pendengaranku.
Sejenak suasana diantara aku dan Kai kembali hening, padahal biasanya Kai tidak suka keheningan. Ia pasti akan memecah keheningan demi keheningan dengan keunikannya. Aku jadi merasa canggung.
“Oiya…” ujarku dan Kai bersamaan. Sontak aku dan Kai tertawa karenanya. Bisa-bisanya kami janjian berbicara bersama seperti itu.
“Mau ngomong apa, Kar?” Tanyanya. Aku langsung terdiam. Oh iya. Inikah saatnya aku memberikannya suratku? Ya Tuhan…. Hm… baiklah, cepat atau lambat ini pasti terjadi.
Aku menyibak rambutku dengan gugup, lalu mengambil surat itu dari dalam saku jaketku. Sesaat, Kai terlihat bingung dengan tingkahku. Aku mengangsurkan surat itu ke tangan Kai. Kai masih terdiam. “Buat kamu.” Ujarku.
Ia baru mengambilnya. Ia mengerutkan keningnya, lalu bertanya, “Boleh baca?” Aku tersenyum mengiyakan. Tiba-tiba aku terkesiap, ternyata maksud Kai adalah membacanya sekarang. Ya ampun, aku harus memasang wajah bagaimana?
Ketika Kai membaca suratku, aku memerhatikannya dengan ujung mataku. Ia terdiam membisu dengan mata tertancap pada kertas biruku. Sebelum satu jawabanpun keluar dari mulutnya, aku ingin sekali melihat wajahnya. Kesempatan ini kumanfaatkan sebaik mungkin untuk melihat setiap inci wajah tegas Kai yang kusukai.
Jantungku berdegup sangat kencang. Seperti hendak keluar jika saja rasanya. Kai tidak pernah seserius ini membaca sesuatu sebelumnya. Aku terpaku. Aku takut. Meskipun seharusnya aku sudah siap dengan apapun respon yang akan Kai berikan padaku, tetap saja perutku bergolak dengan cepat. Dadaku bergemuruh hingga tiba-tiba aku ingin sekali menyumbat telingaku agar aku tidak mendengar hal-hal aneh dalam tubuhku.
Beberapa menit berlalu hingga Kai akhirnya mengangkat kepalanya. Ia menatapku tajam. Aku hampir merosot. Seharusnya aku sudah tahu jawabannya tanpa memberikan suratku. Ya Tuhan, apakah aku baru saja mempermalukan diriku sendiri didepan orang yang kusukai?
Kai masih menatapku dengan tajam, tanpa mengalihkan pandangannya sekalipun dariku. Aku hampir saja berniat untuk kabur ketika pada akhirnya matanya melembut dan ia tersenyum. Ia mengangsurkan sepucuk surat juga padaku. Aku membukanya. Hanya ada satu kalimat disana.
“I love you.” Aku menghembuskan napas bahagia.